Sabtu, 06 Februari 2021

Prioritas di atas Prioritas

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mentoring kali ini menjadi jalan terbukanya pikiranku. Diramu dari buku penuh binar "Fiqh Prioritas" teh Juan berbagi sejumlah ilmu yang sangat memberikan manfaat bagi kami terutama aku pribadi. 

Pikiranku jadi terbuka bahwa ternyata ada loh, tingkatan prioritas setiap kita (dari segi fiqh). Ternyata ada loh prioritas di atas prioritas yang lebih utama.

-Entah mengapa ketika aku menyebut kata "Prioritas", kok bernada? Kamu begitu tidak? Ahahaha ~ Intermezo-

Back to the topic. Mengenai prioritas ini, kita sering denger banyak orang yang berkali kali kali kali melaksanakan ibadah ritual wajib (bagi yang sanggup dari segi materi, fisik), satu diantara rukun islam, dan perintah wajib dari Allaah langsung, yakni ibadah H a j i. Atau bahkan berkali kali kali kali kali melaksanakan ritual ibadah sunnah, waktu kapan saja dapat berkunjung, dan siap dari segi materi, fisik juga iman, yakni ibadah u m r a h.

Namun, sebenarnya, jika kita berdiam lalu merenung, dan berpikir.. ternyata.. ada buanyak sekali hal lain yang mesti dibenahi sedari ini, di samping hal wajib yang berlaku sunnah setelahnya, yakni ibadah haji tadi. 

Betul ibadah haji menjadi suatu kewajiban. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah.. bahwa haji yang wajib itu cuman satu kali seumur hidup. Mengapa demikian? Sebab... Mari kita lihat firman Allaah berikut

"Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas (di antaranya) maqam ibrahim. Barangsiapa yang memasuki (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allaah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allaah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." - QS.Ali-Imran : 97

Maa syaa Allaah..

Mungkin secara sepintas, ayat yang aku garisbawahi tidak secara langsung memberikan jawaban, "Mengapa kita wajib haji hanya satu kali?" Hence, mari kita telaah. 

Indahnya, Allaah dalam artinya menyatakan bahwa untuk kewajiban melaksanakan ibadah haji itu ditujukan bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana (Baitullah). Mampu dari segi finansial, fisik, materil, dan hal-hal lainnya. Jadi, sudah jelas bahwasanya kewajiban seorang muslim mampu dalam melaksanakan ibadah haji itu hanya satu kali, bahkan sekali seumur hidup. 

Begitupun dengan umrah yang jatuhnya ibadah sunnah, which is, sunnah berarti tidak wajib dikerjakan dan jika dikerjakan tentu memiliki keutaman yang luar biasa.

NAH, beranjak dari hal tersebut, sebetulnya ada hal lain yang mesti dibenahi disamping keutamaan haji dan umrah tersebut, ada prioritas di atas prioritas. Misal, lebih utama kalau kita menyisihkan harta kita untuk makanan, kitab Al-Qur'an, pembangunan masjid bagi masyarakat Palestina, lebih utama jika kita membantu sesama muslim/ah dalam hal ekonomi karena superb orang yang lebih membutuhkan dari kita, lebih utama juga kita berinvestasi walau kecil sisipkan uang kita untuk menyantuni anak yatim, menabung untuk kemaslahatan umat di luar kita yang sangat sangat butuh bantuan kita. Di samping itu, contoh lain misalnya, ketika semakin masifnya pembuatan gedung sana-sini, padahal, pendidikan dan kesehatan saja masih kurang. Berlomba-lomba membangun masjid paling megah dan mewah, padahal, di daerah tersebut dapat dibilang cukup kalau perihal masjid memadai.

Terlepas dari itu, prioritas yang musti dipriotaskan lainnya, dari sisi diri kita sendiri yang mungkin belum memiliki uang sebanyak mereka, dapat bolak balik menuju kota yang ingin setiap muslim merasakannya, maka ayok kita coba untuk mengamalkan keutamaan ibadah shalat berjamaah dibanding shalat sendiri misalnya, yang sebenarnya kita tau keutamannya ~27 Derajat~ tetapi kita malah enggan melaksanakannya. Ayok coba kita prioritaskan sedekah walau kecil, bukankah Allaah tidak menilai dari banyak tidaknya, tetapi dari ikhlas atau tidaknya.

Kalau kita kilas balik, ternyata para sahabat dulu sangat bersemangat dan berlomba-lomba mengejar amalan yang paling mulia. Mereka senantiasa haus dalam mengejar amalan paling paling paling tinggi. Mari kita simak penggalan hadist dari Amr ibn Abbas

Ketika itu, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah "Ya Rasulullah, apakah Islam itu?" 

Beliau menjawab, "Islam adalah menyeru hatimu pada Allaah dan selamatkan kaum muslimin dari lidah dan tangan."

Lalu laki-laki itu bertanya lagi "Manakah Islam yang paling utama?"

Beliau menjawab, "Iman"

Lalu ditanya lagi, "Apa pula iman itu?"

Beliau menjawab, "Engkau beriman kepada-Nya, malaikat, Rasul, kitab-kitab, hari kebangkitan setelah mati."

Laki-laki itu bertanya lagi, "Manakah Iman yang paling utama?"

Rasul menjawab, "Berhijrah"

Lalu bertanya lagi, "Apa pula hijrah itu?"

Rasul menjawab, "Engkau meninggalkan kejelekan"

Laki-laki itu bertanya lagi "Lalu hijrah mana yang paling utama?"

Rasul menjawab, "Jihad"

Dia bertanya lagi "Apa itu jihad? Dan jihad mana yang utama?"

Rasul menjawab, "Hendaklah engkau memeranggi orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka dan jihad yang utama adalah jihad yang mempersembahkan harta dan nyawanya"

--

Dari penggalan hadist tersebut mengisyaratkan betapaa.. contoh bagi kita, sahabat Nabi berupaya besar, belomba-lomba dalam kebaikan untuk mencari dan mengejar keutamaan amalan yang paling paling utama di antara keutamaan lain.

Maka, sebenarnya menjadi PR bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami prioritas manakah yang semestinya seorang muslim tau dan pahami, mencoba menempatkan sesuatu sesuai porsinya, dan memprioritaskan sesuatu di atas prioritas yang semestinya. Dan jika ditelusuri sebenarnya buanyak banget prioritas yang salah kita prioritaskan, satu contoh konret ketika menyampaikan pesan kepada teman yang pacaran, yang mana pacaran itu hanya efeknya dan upaya tindak lanjutnya bisa dengan merangkul dan meluruskan ketauhidannya dulu dan inilah yang jadi pokok kajiannya, mengatasi masalah dari penyebab, baru ke dampak, dari hulu baru beranjak ke hilir.

Semangat berbenah, sama-sama perbaiki jadi diri lebih baik dan unggul, mulai dari perbaikan minimal hari ini mesti lebih baik dari hari kemarin. Tantangan ke depan masih sangat banyak, sebaik-baiknya kita yang tidak cepat mundur ketika badai itu menghadang, tetapi tetap melaju walau itu terasa berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar