Minggu, 28 Februari 2021

Istiqamah, yuk


Awalnya masih bingung ketika ditanya, apa kendaraan sepanjang usia?

Ternyata itu adalah sebuah kendaraan yang mengantarkan kita pada suatu tujuan, dan itu adalah

I s t i q a m a h

Berbicara seputar istiqamah rasanya agak berat, karena istiqamah bukan sekadar ucapan, konsisten, atau kebiasaan, tetapi jauh dari itu. Teh Juan dalam mentoring kali ini mengutip apa yang disampaikan Ustaz Muhammad Nurul Dzikri mengenai istiqamah. Ternyata, istiqamah punya makna yang jauh lebih kompleks. 

Dia yang terus memperbaiki diri dengan kualitas yang dimiliki, semisal mengaji dengan memperbaiki tahsinnya, makharijul hurufnya, dan tajwidnya. Bukan hanya membenahi, tetapi juga meningkatkan kualitas, meningkatkan ketauhidan kepada Rabb kita, bagaimana kita bisa merasakan dampak dari amalan yang kita lakukan.

Rasanya berat berjalan istiqamah menuju tujuan dan penuh lika liku, tetapi kalau kita meyakini bahwa ada Allaah Yang Mahakuasa, Allaah Yang Maha Penolong, maka dengan meminta pertolongan kepada-Nya semua akan terasa mudah, semua akan terasa tenang.

Sebagaimana dalam QS. Al-Ahqaf ayat 13, yang artinya

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami adalah Allaah", kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap merka dan mereka tiada pula berduka cita."

Maa syaa Allaah, daleeem.. jadi, diri yang lemah ini, tetap dijalan istiqamah, dan mohon pertolongan pada Allaah aja udah lebih dari cukup..

tapii, makhluk Allaah yang suka usil menggoda kita engga mau liat kita ngaliirr terus istiqamah. Selalu ada aja tipu daya mereka untuk menggoda kita. 

tapi.. Jangan juga dijadikan excuse, karena "Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah" - QS. An-Nisa : 76

"Sebenarnya kita mampu, kok. Kitanya aja yang ngerasa gak mampu, buat bualan excuse. Jadii, Wahai diri, yuk bangkit, yuk istiqamah, jadikan ia sebagai kendaraan yang mengantarkanmu pada ujung yang baik, yakni husnul khatimah."

kutipan yang selalu kuingat 

'Jangan kalah sama diri sendiri, rugi banget' - Teh Juan "

Minggu, 21 Februari 2021

Manusia Langit

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mentoring hari ini membahas mengenai muslim wal muslimah yang luar biasa banget. 

Seorang perempuan yang hidup di zaman Rasulullah, seorang perempuan, yang bisa disebut perempuan tomboy, hidup di zaman Rasulullah. 

Kala itu masa perang, masa penuh lumuran darah, penuh isinya sama orang yang wafat karena terluka oleh goresan pedang tajam. dan dimasa itu, seorang perempuan bernama Nusaibah binti Ka'ab, wanita, perempuan, muslimah yang tangguh, tomboy selalu ikut perang sama Rasulullah. 

Bayangin, perempuan di zaman sekarang itu beda banget. Ketika melihat kerusuhan aja, suka sembunyi, takut melawan musuhnya, bahkan ketika di bangku sekolah melihat teman-teman berantem tiada ulah selain berteriak. Bukan memisahkan malah menambah kerusuhan. 

Tapi, berbeda dengan seorang para perempuan tangguh ini, ikut perang di masa Nabi. Nusaibah. Beliau rela mewakafkan dirinya, mewakafkan.. memberikan dirinya untuk berjihad di jalan perang. 

Kala itu, Rasulullah sedang dalam medan perang bersama Nusaibah. Hantaman pedang dari berbagai sudut membuat seorang Nusaibah membuat tameng perlindungan dan mengerahkan segala potensi dalam dirinya untuk melindungi Rasulullah. Dengan ikhlas dirinya dia korbankan untuk melindungi Rasulullah, agar Rasul tetap dalam keadaan baik. Dia ikhlas terluka parah bahkan sampai 12 titik luka  bahkan sampai mengenai lehernya. Betapa besar bukti cintanya kepada baginda bahkan rela untuk mati. 

Lalu, kisah dari kisah termahsyur ketika seorang laki-laki mengambil makanan yang hanyut di pinggir sungai. Dan seperti yang Teh Juan bilang bahwa ketika Tauhid sudah menembus dan menetap dalam diri seseorang, maka sudah semestinya kita menerapkan mindfullness dalam diri, layaknya seorang laki-laki ini yang mengikuti arus aliran sungai tempat makanan diambil, sebagai rasa memenuhi rasa tanggung jawab atas ketidakhalalan dari makanan yang telah ia ambil, maka ia pun menemui orang yang memiliki tanaman tersebut.

Hingga tiba ia menanyakan "Apa hal yang mesti saya bayar agar Bapak (pemilik makanan) berkenan menjadikan kehahalan pada makanan yang ia ambil" Kemudian bapak ini berucap "Kau harus bekerja selama satu bulan dan ikhlas untuk tidak diberi upah" Tak puas dengan itu pemuda ini menanyakan kembali "Lalu apalagi" Bapak menjawab "Sudikah engkau menikahi anak ku yang tuli, buta, dan bisu"

Sebagian dari kita mungkin engga akan nerima seorang yang cacat fisik yang engga bisa ngapa-ngapain. Namun, begitu nilai-nilai keislaman sudah berada dalam dirinya, pemuda ini menerima dengan ikhlas dan menikahi anak dari bapak itu. Namun siapa sangka, ketika prosesi akad nikah telah berlangsung seketika ketika masuk menemui perempuan tuli, bisu, dan buta tadi berucap "Assalaamu'alaikum" 

Sontak laki-laki ini terkejut hingga dia kembali menemui bapaknya dan berkata "Siapa yang mengucapkan salam tadi" bapak menjawab "Dialah wanita yang bisu karena tidak pernah berucap kecuali sesuai dengan ajaran agama. Dialah wanita tuli yang tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak sesuai syariat, dan dialah wanita buta yang tidak pernah melihat sesuatu yang diajarkan islam."

Begitu maa syaa Allaah nya perempuan terjaga ini, Fathimah binti Ubaidilah yang kemudian melahirkan sosok Imam besar. Tiada muslim yang tidak tau, Imam Asy-Syafi'i seorang ulama yang dapat memahami dan menghapal Al-Qur'an diusia belianya, 7 tahun sekaligus dapat hapal sebanyak 30.000 hadist. Bahkan, diusianya 15 tahun mampu memberikan fatwa Islam, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Allaahu akbar!

Hikmah yang dapat dipetik bahwasanya seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagaimana dalam QS. An-Nisa ayat 36 "Laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik..." Allaah ciptakan seimbang. Buruk dapat buruk, baik dapat baik. Jadi bahan cerminan bagi diri, jika menginginkan imam yang baik, maka jadilah wanita yang baik. ((:

Maka, dari seorang pemuda dan seorang perempuan terjaga mampu menjadi bukti nyata

"1 Kebaikan saja bisa mengantarkan kebaikan yang panjang dan meluas, bahkan hingga generasi-generasi setelahnya. Efeknya bukan untuk diakhirat saja, tetapi juga secara gamblang Allaah tunjukkan lewat kisah ini." - TehJu

Maka, hadist nabi yang secara garis besarnya "Buatlah kebaikan walau kecil, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan mengantarkan kita pada Surga-Nya" sudah memberikan jalan, marilah berbuat baik, walaupun itu kecil, yang bahkan efeknya itu engga hanya sampai akhirat, bahkan kita masih hidup lewat keturunan pun mampu memberikan dampak dari nilai-nilai kebaikan yang kecil tadi.. yaa rabb, daleeem..

Minggu, 14 Februari 2021

Beramal walau Tidak Ternilai

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

 Hari Ahad dimana banyak orang menikmati weekend-nya, aku dan teman-teman Allaah berikan kenikmatan menuntut ilmu, kenikmatan menikmati waktu produktif.

    A l h a m d u l i l l a a h - segala puji bagi Allaah

 Di kesempatan kali ini teteh mentor memberikan asupan gizi ilmu bagi kami. Masih dibagian produktivitas, kali ini membahas tentang prioritas dalam produktivitas bersama buku penuh binar "Fiqh Prioritas".

Ada enam hal yang disuguhkan hari ini, di antaranya prioritas amal yang kontinyu di atas amalan terputus, prioritas amal yang luas manfaatnya di atas amal yang kurang manfaatnya, prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih langgeng kesannya, prioritas beramal pada zaman fitnah, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan, perbedaan tingkat keutamaan sesuai tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

Bahasan kali ini, ku ingin mengupas beberapa poin dari enam poin tersebut 

 let's straight into it!

Beramal, dalam beramal atau bersedekah kita mengenal pernyataan "Bersedekahlah walaupun sedikit, jangan ragu, jangan takut kehabisan harta". Pernyatan yang cukup klise kita dengar. Dalem.

Kita dianjurkan untuk bersedekah mesti itu sedikit materilnya."Engga masalah sedikit, yang penting kan ikhlasnya"

Oke, ke tangkap dan tergambar dalam otak kita, bayang-bayang, saat kita bersedekah kita bisa bantu orang yang butuh, betapa senangnya diri kita saat kita bisa menyisihkan sedikit harta, menginvestasikan harta demi kemashlahatan umat yang mana saat kita sudah menyisihkan sedikit harta kita itu bisa buat ngerasa diri kita bermanfaat banget buat orang lain.

Berbicara soal sedekah, jadi teringat pesannya Alm. Syeikh Ali Jabber. Bahwasanya bersedekah diwaktu pagi lebih utama karena waktu pagi salah satu waktu yang diberkahi Allaah. Syeikh Ali mengatakan bahwasanya barang siapa yang ingin doanya dikabulkan, semuanya dipermudah, dan membawa kebermanfaatan, maka bersedekahlah diwaktu pagi. Sisihkan walau sedikit masukkan ke dalam celengan atau sebagainya. Lalu setelah itu jangan lupa berdoa, apa pun yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sedikit demi sedikit, sedikit jadi bukit, setelah penuh kalengnya maka berikanlah pada khalayak mana pun, boleh masjid, sekolah tahfiz, anak yatim, dan sebagainya.

Maa syaa Allaah betapa indahnya berbagi. Bersedekah dapat mengabulkan keinginan kita. Amalan sedikit demi sedikit, tetapi kontinyu menjadi amalan yang dicintai Allaah. Sebagaimana dalam hadistnya riwayat Aisyah RA "Amalan yang paling dicintai Allaah adalah amalan yang langgeng walau sedikit"

Namun, amalan yang kita lakukan bukan amalan yang memberatkan kita, tetapi amalan sesuai dengan kemampuan. Sebagaimana hadist nabi pula yang diriwayatkan Aisyah RA  "Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan karena sesungguhnya Allaah tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan" 

Nah, di samping dari amalan yang dilakukan secara kontinyu, cobalah kita mulai memberikan manfaat lebih luas, lebih lama manfaatnya, dan lebih langgeng kesannya. Amalan tersebut adalah amalan jariyah. Semisal memberi wakaf Al-Qur'an yang mana ini menjadi aset pahala karena pahala mengalir sesuai dengan penerima wakaf membaca Al-Qur'an. 

Selain itu, hal yang prioritas dalam amalan jariyah ini adalah memperoleh ilmu lebih utama pahalanya, lebih prioritas pahalanya, ditambah jika dia mengajarkan ilmu yang didapatnya. Orang yang berilmu akan Allaah tinggikan derajatnya. Berkenaan dengan mengajarkan ilmu pada sesama, terdapat hadist nabi

"Sesungguhnya Allaah dan para malaikat serta penghuni langit dan bumi hingga semut yang ada pada lubangnya dan ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan shalawat atas orang yang mengerjakan kebaikan kepada manusia"

Maa syaa Allaah betapa besar pahala yang Allaah berikan pada siapa saja yang mau memberikan, mengajarkan, dan memanusiakan manusia di atas Ridho-Nya. Bahkan semut sekecil pun akan membacakan shalawat atas mereka yang mengerjakan kebajikan, Allaah.

Consequently, mari mulai eksekusi, mulai dari hal kecil, mulai kontinyu, dan memberikan manfaat jangka panjang agar pahalanya senantiasa mengalir ^^


Sabtu, 06 Februari 2021

Prioritas di atas Prioritas

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mentoring kali ini menjadi jalan terbukanya pikiranku. Diramu dari buku penuh binar "Fiqh Prioritas" teh Juan berbagi sejumlah ilmu yang sangat memberikan manfaat bagi kami terutama aku pribadi. 

Pikiranku jadi terbuka bahwa ternyata ada loh, tingkatan prioritas setiap kita (dari segi fiqh). Ternyata ada loh prioritas di atas prioritas yang lebih utama.

-Entah mengapa ketika aku menyebut kata "Prioritas", kok bernada? Kamu begitu tidak? Ahahaha ~ Intermezo-

Back to the topic. Mengenai prioritas ini, kita sering denger banyak orang yang berkali kali kali kali melaksanakan ibadah ritual wajib (bagi yang sanggup dari segi materi, fisik), satu diantara rukun islam, dan perintah wajib dari Allaah langsung, yakni ibadah H a j i. Atau bahkan berkali kali kali kali kali melaksanakan ritual ibadah sunnah, waktu kapan saja dapat berkunjung, dan siap dari segi materi, fisik juga iman, yakni ibadah u m r a h.

Namun, sebenarnya, jika kita berdiam lalu merenung, dan berpikir.. ternyata.. ada buanyak sekali hal lain yang mesti dibenahi sedari ini, di samping hal wajib yang berlaku sunnah setelahnya, yakni ibadah haji tadi. 

Betul ibadah haji menjadi suatu kewajiban. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah.. bahwa haji yang wajib itu cuman satu kali seumur hidup. Mengapa demikian? Sebab... Mari kita lihat firman Allaah berikut

"Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas (di antaranya) maqam ibrahim. Barangsiapa yang memasuki (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allaah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allaah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." - QS.Ali-Imran : 97

Maa syaa Allaah..

Mungkin secara sepintas, ayat yang aku garisbawahi tidak secara langsung memberikan jawaban, "Mengapa kita wajib haji hanya satu kali?" Hence, mari kita telaah. 

Indahnya, Allaah dalam artinya menyatakan bahwa untuk kewajiban melaksanakan ibadah haji itu ditujukan bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana (Baitullah). Mampu dari segi finansial, fisik, materil, dan hal-hal lainnya. Jadi, sudah jelas bahwasanya kewajiban seorang muslim mampu dalam melaksanakan ibadah haji itu hanya satu kali, bahkan sekali seumur hidup. 

Begitupun dengan umrah yang jatuhnya ibadah sunnah, which is, sunnah berarti tidak wajib dikerjakan dan jika dikerjakan tentu memiliki keutaman yang luar biasa.

NAH, beranjak dari hal tersebut, sebetulnya ada hal lain yang mesti dibenahi disamping keutamaan haji dan umrah tersebut, ada prioritas di atas prioritas. Misal, lebih utama kalau kita menyisihkan harta kita untuk makanan, kitab Al-Qur'an, pembangunan masjid bagi masyarakat Palestina, lebih utama jika kita membantu sesama muslim/ah dalam hal ekonomi karena superb orang yang lebih membutuhkan dari kita, lebih utama juga kita berinvestasi walau kecil sisipkan uang kita untuk menyantuni anak yatim, menabung untuk kemaslahatan umat di luar kita yang sangat sangat butuh bantuan kita. Di samping itu, contoh lain misalnya, ketika semakin masifnya pembuatan gedung sana-sini, padahal, pendidikan dan kesehatan saja masih kurang. Berlomba-lomba membangun masjid paling megah dan mewah, padahal, di daerah tersebut dapat dibilang cukup kalau perihal masjid memadai.

Terlepas dari itu, prioritas yang musti dipriotaskan lainnya, dari sisi diri kita sendiri yang mungkin belum memiliki uang sebanyak mereka, dapat bolak balik menuju kota yang ingin setiap muslim merasakannya, maka ayok kita coba untuk mengamalkan keutamaan ibadah shalat berjamaah dibanding shalat sendiri misalnya, yang sebenarnya kita tau keutamannya ~27 Derajat~ tetapi kita malah enggan melaksanakannya. Ayok coba kita prioritaskan sedekah walau kecil, bukankah Allaah tidak menilai dari banyak tidaknya, tetapi dari ikhlas atau tidaknya.

Kalau kita kilas balik, ternyata para sahabat dulu sangat bersemangat dan berlomba-lomba mengejar amalan yang paling mulia. Mereka senantiasa haus dalam mengejar amalan paling paling paling tinggi. Mari kita simak penggalan hadist dari Amr ibn Abbas

Ketika itu, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah "Ya Rasulullah, apakah Islam itu?" 

Beliau menjawab, "Islam adalah menyeru hatimu pada Allaah dan selamatkan kaum muslimin dari lidah dan tangan."

Lalu laki-laki itu bertanya lagi "Manakah Islam yang paling utama?"

Beliau menjawab, "Iman"

Lalu ditanya lagi, "Apa pula iman itu?"

Beliau menjawab, "Engkau beriman kepada-Nya, malaikat, Rasul, kitab-kitab, hari kebangkitan setelah mati."

Laki-laki itu bertanya lagi, "Manakah Iman yang paling utama?"

Rasul menjawab, "Berhijrah"

Lalu bertanya lagi, "Apa pula hijrah itu?"

Rasul menjawab, "Engkau meninggalkan kejelekan"

Laki-laki itu bertanya lagi "Lalu hijrah mana yang paling utama?"

Rasul menjawab, "Jihad"

Dia bertanya lagi "Apa itu jihad? Dan jihad mana yang utama?"

Rasul menjawab, "Hendaklah engkau memeranggi orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka dan jihad yang utama adalah jihad yang mempersembahkan harta dan nyawanya"

--

Dari penggalan hadist tersebut mengisyaratkan betapaa.. contoh bagi kita, sahabat Nabi berupaya besar, belomba-lomba dalam kebaikan untuk mencari dan mengejar keutamaan amalan yang paling paling utama di antara keutamaan lain.

Maka, sebenarnya menjadi PR bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami prioritas manakah yang semestinya seorang muslim tau dan pahami, mencoba menempatkan sesuatu sesuai porsinya, dan memprioritaskan sesuatu di atas prioritas yang semestinya. Dan jika ditelusuri sebenarnya buanyak banget prioritas yang salah kita prioritaskan, satu contoh konret ketika menyampaikan pesan kepada teman yang pacaran, yang mana pacaran itu hanya efeknya dan upaya tindak lanjutnya bisa dengan merangkul dan meluruskan ketauhidannya dulu dan inilah yang jadi pokok kajiannya, mengatasi masalah dari penyebab, baru ke dampak, dari hulu baru beranjak ke hilir.

Semangat berbenah, sama-sama perbaiki jadi diri lebih baik dan unggul, mulai dari perbaikan minimal hari ini mesti lebih baik dari hari kemarin. Tantangan ke depan masih sangat banyak, sebaik-baiknya kita yang tidak cepat mundur ketika badai itu menghadang, tetapi tetap melaju walau itu terasa berat.