Minggu, 21 Februari 2021

Manusia Langit

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mentoring hari ini membahas mengenai muslim wal muslimah yang luar biasa banget. 

Seorang perempuan yang hidup di zaman Rasulullah, seorang perempuan, yang bisa disebut perempuan tomboy, hidup di zaman Rasulullah. 

Kala itu masa perang, masa penuh lumuran darah, penuh isinya sama orang yang wafat karena terluka oleh goresan pedang tajam. dan dimasa itu, seorang perempuan bernama Nusaibah binti Ka'ab, wanita, perempuan, muslimah yang tangguh, tomboy selalu ikut perang sama Rasulullah. 

Bayangin, perempuan di zaman sekarang itu beda banget. Ketika melihat kerusuhan aja, suka sembunyi, takut melawan musuhnya, bahkan ketika di bangku sekolah melihat teman-teman berantem tiada ulah selain berteriak. Bukan memisahkan malah menambah kerusuhan. 

Tapi, berbeda dengan seorang para perempuan tangguh ini, ikut perang di masa Nabi. Nusaibah. Beliau rela mewakafkan dirinya, mewakafkan.. memberikan dirinya untuk berjihad di jalan perang. 

Kala itu, Rasulullah sedang dalam medan perang bersama Nusaibah. Hantaman pedang dari berbagai sudut membuat seorang Nusaibah membuat tameng perlindungan dan mengerahkan segala potensi dalam dirinya untuk melindungi Rasulullah. Dengan ikhlas dirinya dia korbankan untuk melindungi Rasulullah, agar Rasul tetap dalam keadaan baik. Dia ikhlas terluka parah bahkan sampai 12 titik luka  bahkan sampai mengenai lehernya. Betapa besar bukti cintanya kepada baginda bahkan rela untuk mati. 

Lalu, kisah dari kisah termahsyur ketika seorang laki-laki mengambil makanan yang hanyut di pinggir sungai. Dan seperti yang Teh Juan bilang bahwa ketika Tauhid sudah menembus dan menetap dalam diri seseorang, maka sudah semestinya kita menerapkan mindfullness dalam diri, layaknya seorang laki-laki ini yang mengikuti arus aliran sungai tempat makanan diambil, sebagai rasa memenuhi rasa tanggung jawab atas ketidakhalalan dari makanan yang telah ia ambil, maka ia pun menemui orang yang memiliki tanaman tersebut.

Hingga tiba ia menanyakan "Apa hal yang mesti saya bayar agar Bapak (pemilik makanan) berkenan menjadikan kehahalan pada makanan yang ia ambil" Kemudian bapak ini berucap "Kau harus bekerja selama satu bulan dan ikhlas untuk tidak diberi upah" Tak puas dengan itu pemuda ini menanyakan kembali "Lalu apalagi" Bapak menjawab "Sudikah engkau menikahi anak ku yang tuli, buta, dan bisu"

Sebagian dari kita mungkin engga akan nerima seorang yang cacat fisik yang engga bisa ngapa-ngapain. Namun, begitu nilai-nilai keislaman sudah berada dalam dirinya, pemuda ini menerima dengan ikhlas dan menikahi anak dari bapak itu. Namun siapa sangka, ketika prosesi akad nikah telah berlangsung seketika ketika masuk menemui perempuan tuli, bisu, dan buta tadi berucap "Assalaamu'alaikum" 

Sontak laki-laki ini terkejut hingga dia kembali menemui bapaknya dan berkata "Siapa yang mengucapkan salam tadi" bapak menjawab "Dialah wanita yang bisu karena tidak pernah berucap kecuali sesuai dengan ajaran agama. Dialah wanita tuli yang tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak sesuai syariat, dan dialah wanita buta yang tidak pernah melihat sesuatu yang diajarkan islam."

Begitu maa syaa Allaah nya perempuan terjaga ini, Fathimah binti Ubaidilah yang kemudian melahirkan sosok Imam besar. Tiada muslim yang tidak tau, Imam Asy-Syafi'i seorang ulama yang dapat memahami dan menghapal Al-Qur'an diusia belianya, 7 tahun sekaligus dapat hapal sebanyak 30.000 hadist. Bahkan, diusianya 15 tahun mampu memberikan fatwa Islam, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Allaahu akbar!

Hikmah yang dapat dipetik bahwasanya seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagaimana dalam QS. An-Nisa ayat 36 "Laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik..." Allaah ciptakan seimbang. Buruk dapat buruk, baik dapat baik. Jadi bahan cerminan bagi diri, jika menginginkan imam yang baik, maka jadilah wanita yang baik. ((:

Maka, dari seorang pemuda dan seorang perempuan terjaga mampu menjadi bukti nyata

"1 Kebaikan saja bisa mengantarkan kebaikan yang panjang dan meluas, bahkan hingga generasi-generasi setelahnya. Efeknya bukan untuk diakhirat saja, tetapi juga secara gamblang Allaah tunjukkan lewat kisah ini." - TehJu

Maka, hadist nabi yang secara garis besarnya "Buatlah kebaikan walau kecil, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan mengantarkan kita pada Surga-Nya" sudah memberikan jalan, marilah berbuat baik, walaupun itu kecil, yang bahkan efeknya itu engga hanya sampai akhirat, bahkan kita masih hidup lewat keturunan pun mampu memberikan dampak dari nilai-nilai kebaikan yang kecil tadi.. yaa rabb, daleeem..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar