Sabtu, 23 Januari 2021

Belajar dari Pembelajar Dahulu

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Pernah gak temen-temen ngerasa minder sama orang lain? in.se.cure gitu sama kemampuan orang lain? Macam contoh konkret berikut,

Kenapa dia bisa bangun jam tiga pagi padahal itu pagi banget? Kenapa kok dia bisa menyempatkan waktunya untuk dzikir pagi dan petang? Kenapa dia bisa menghapal Al-Quran satu juz satu hari padahal ini beratnya minta ampun? Kenapa sih dia bisa buat artikel yang impressive? Kenapa dia bisa lulus kuliah 3,5 tahun? Otaknya itu encer banget. Kenapa dia bisa berbagi padahal ekonominya minim banget? Kenapa dia bisa dengan mudah memaafkan orang lain? Kenapa dia bisa share ilmunya begitu mudah di instastorynya?  Kenapa dia bisa rutin posting feed di ig dan tulisannya membuat pikiran aku terbuka? Kenapa jalan cerita yang dia buat itu runtun banget sih?

=== Kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa dia?  ===

Interesting!

Kata 'Kenapa' (sebagian kita tau) terselip makna suatu 'Alasan' yang mana secara masif, untuk menjawab kata 'Kenapa' kita butuh prolog kata 'Karena'. 

Faktanya, frasa 'Tabiat Manusia', kita atau bahkan hampir semua manusia hanya mampu melihat apa yang diperlihatkan Allaah melewati si 'Dia'.

Secara konkret kita bisa men-judge si 'Dia' begini dan si 'Dia' begitu. Namun, terlepas dari itu, kita tidak pernah tau seberapa berat dia melangkah, seberapa berat dia mengerahkan diri dan potensinya untuk memanifestasi harapannya, seberapa berat dia melawan rasa malasnya untuk bangkit di samping lebih dari ribuan kali gagal menghampiri, dan kita tidak pernah tau seberapa banyak dia menghadirkan dirinya seraya memohon pada Tuhan-Nya dengan penuh kelembutan, mencurahkan segala perasannya sambil merintih nangis dan berdo'a "Ya Allaah, hamba lelah, hamba cape, hamba tidak sanggup lagi Mengapa ini berat ya Allaah, mengapa ini sangat sulit untuk dijalani? Mengapa ya Allaah ujian satu belum selesai Kau timpakan lagi kesedihan mendalam?"

Dan pada akhirnya, tidak baik jika kita terlalu berbangga diri, menganggap diri lebih baik, paling baik, paling keras dan semangat dalam berjuang daripada si 'Dia' yang kau anggap remeh. 

Maka, betapa penting kita menanamkan sikap berprasangka baik pada mereka yang memiliki semangat juang tinggi, berjalan dimuka bumi dengan penuh semangat, dan yang kita anggap mereka itu adalah orang-orang hebat hebat. Bisa jadi, di sana terdapat ridho Allaah lebih menyelimuti dia dibanding kita. Boleh jadi, bangunnya dan niatnya dia lebih lillaah daripada kita. Bisa saja keikhlasan hatinya lebih mendatangkan manfaat dan berkah di banding kita. Karena kita tidak tau, seberapa besar usaha dia dalam melibatkan Allaah dalam setiap untaian detik hingga ajal mendatang.

Kilas balik zaman dahulu, guru-guru, ulama, dan para imam besar, budaya mereka adalah selalu terpacu dalam hal melakukan kebaikan, walau kebaikan itu bernilai kecil. Layaknya bola salju, kecil menuju besar, menggulung kebaikan menuju kebaikan, semakin besar bola salju, maka kebaikan semakin banyak dan mendatangkan keberkahan dalam hidup sehingga suatu harapan menjadi 'abdan syakura, seorang hamba yang selalu bersyukur dan menjadikan Surga-Nya sebagai impian akan terwujud. 

Kebaikan tersebut dapat menerangkan kegelapan dan meluaskan kesempitan, mengubah peradaban, dan mengenang sejarah di zamannya. Suatu karya yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Semakin canggihnya teknologi, segala kemudahan kita dapatkan, karya yang mereka buat dapat disantap dengan mudah oleh kita pada masa sekarang.

Seperti Ubaid bin Ya'isyi, seorang ulama besar dalam tafsir hadist dengan kegigihannya beliau tidak rela menyia-nyiakan waktunya untuk bersantai ria, tidak seperti kita yang memiliki jiwa bermalas-malasan dan rebahan. Beliau rela memanfaatkan waktunya untuk -menulis- hadist-hadist yang disampaikan nabi selama -tiga puluh tahun- lamanya. Betul, tiga puluh tahun. Maa syaa Allaah

Jika kita renungkan, tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar, tidak macam satu kedipan mata, bahkan ketika makan saja beliau disuapi oleh adik perempuannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ammar bin Raja' bahwa Ubaid bin Ya'isyi mengatakan "Aku tidak makan mala dengan tanganku sendiri, tetapi saudari perempuankulah yang menyuapiku diseriap malam selama tiga puluh tahun, sementara aku terus menulis hadist."

Lalu, Ibn Aqil dengan karyanya mampu membuat 20 buku tulis dalam beberapa disiplin ilmu dan karyanya yang dahsyat 400 - 800 jilid dalam bidang agama dengan salah satu kitabnya yangt terkenal, yaitu Al Funun. Selain itu, Ibn Main dengan karyanya dapat memenuhi 100 rak buku dan 14 wadah besar karya tulis. Sedangkan Ibnu Jauzi yang dapat menulis 600 kitab dan seorang ulama islam yang tidak asing lagi di telinga kita, Ibnu Taimiyyah dengan karyanya yang tidak dapat dihitung dan sudah tersebar diberbagai belahan dunia.

Betapa luar biasanya bentuk mujahadah, bersungguh-sungguhnya para ulama-ulama terdahulu dalam menebar dan menabur kebaikan hingga karyanya dapat kita terima dengan mudah di masa ini sebagai bentuk mahabbah, cinta kepada Rabbul'alamiin. 

Cukup menjadi bahan renungan bagi diri ini, "Sudah seberapa sungguh kau menebar manfaat? Sudah seberapa besar dan banyaknya karya yang telah kau ukir demi diri, keluarga, masyarakat, dan islam itu sendiri? dan Seberapa sungguhkah engkau mengemukakan cinta pada Tuhanmu? 

Bukankah Siti Khadijah rela memberikan seluruh hartanya, demi Islam sebagai bukti dia mencintai Allaah dan Rasulnya? Bukankah Abu Bakar rela memberikan seluruh hartanya tanpa menyisakan untuk keluarganya dan hanya berpegang pada Rabb dan Tuhannya? Bukankah Asma binti Abu Bakar rela menaiki jalanan terjal nan tinggi padahal sedang dalam fase hamil besar untuk memberikan asupan energi untuk Rasulnya sebagai bukti dia mencintai Allaah dan Rasulnya? 

Wahai diri, kau hanya butuh niat, komitmen, dan kemauan untuk mencapai impian yang belum kau realisasikan. Setelah tau betapa banyak para pembelajar terdahulu yang begitu bersemangat memberikan karyanya sebagai bukti cinta terhadap Tuhannya, mengapa kau begitu cepat untuk menyerah, padahal, niat, komitmen, dan kemauan jika kau pegang maka semua impianmu akan tercapai."

Jadi, semangat berbenah diri, siapkan amunisi, dan siapkan diri untuk bereksekusi dan renungkan

==== Seberapa besar mujahadah kita dibandingkan para pembelajar dahulu? ====

Minggu, 17 Januari 2021

Menjadi Produktif Itu Biasa, Menjadi Muslim Produktif, Itu Luar Biasa!

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

productiveandfree.com 

Era globalisasi, era resolusi menuju 5.0 menjadi bukti nyata semakin canggihnya teknologi. Terlebih dengan adanya prevalensi coronavirus disease 2019 (covid-19) hampir semua kegiatan berbasis online. Namun, kesempatan lebih banyak beraktivitas di rumah -Work from Home- terkadang membuat kita lalai, lebih banyak santai, dan rebahan menjadi pelampiasan sehingga imbasnya keproduktifan bisa saja menurun.

Apakah sibuk = produktif ?

Sebagian dari kita selama ini beranggapan bahwasanya produktif memiliki arti yang sama dengan sibuk, orang produktif itu tidak punya waktu, dan orang produktif itu tidak fokus. Namun, pemahaman tersebut keliru setelah kita memaknai arti produktif yang sebenarnya.

Orang produktif bukan orang yang sibuk, bukan orang yang tidak punya waktu, bukan juga orang yang tidak fokus. Namun sebaliknya, orang produktif ialah orang yang punya waktu dan tau bagaimana ia mengelolanya, dapat menyisihkan waktunya kapan ia harus istirahat, bermain, berlibur, menghibur diri, dan orang produktif ia mampu untuk fokus dengan melibatkan hatinya, jiwanya secara totalitas, dan pikirannya terhadap apa yang dikerjakan.

Orang produktif adalah orang yang mampu membuat pilihan cerdas atas apa yang direncanakan setiap harinya. Dengan kata lain produktif dapat berarti mampu menempatkan sesuatu pada kadar dan tempatnya. Hal ini berkaitan dengan kegiatan yang sudah kita buat, rencana yang sudah kita susun, dan pemikiran yang sudah kita pecah menjadi bagian list pada to-do list dapat dikerjakan tepat waktu dan memiliki waktu luang untuk istirahat, sehingga timbul keseimbangan dari segi kesehatan dalam hal istirahat, segi emosi seperti tenang, seru, dan bahagia. 

Namun, perlu diingat bahwa produktif itu bukan sebuah kejadian dan hanya berlaku satu hari, tetapi produktif itu suatu perencanaan dan mampu secara konsisten atau continue membiasakan diri untuk tepat dalam menempatkan sesuatu pada kadar dan tempatnya. 

Lalu apa yang membedakan antara produktif dengan muslim produktif?

Secara umum, menjadi seorang produktif setidaknya memegang tiga poin pokok, yakni fokus, energi, dan waktu. Hal yang membedakannya dengan seorang muslim adalah ibrah atau manfaat yang diperoleh dari sesuatu yang dikerjakannya. Apakah sesuatu yang dikerjakan membawa dampak positif bagi diri atau malah memberikan dampak buruk.

Berkenaan dengan produktivitas dan jika dikaitkan dengan Islam, pernahkah terlintas dibenak kita, bukankah Islam memiliki pilar produktivitas? Yakni kelima pilar pada hadist "Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya hingga dia ditanya tentang lima perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dalam hal apa hartanya ia belanjakan, dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya." Tetapi mengapa masih banyak muslim/ah yang buta huruf? Masih banyak muslim/ah yang melakukan tindak kriminal? Masih banyak muslim/ah yang tidak menghormati hak asasi manusia?

Dalam hal ini, setidaknya terdapat tiga poin penting yang sering manusia, muslim/ah lupa dan lewatkan

1. Tujuan hidup di dunia

Menjadi keutamaan yang luar biasa bagi manusia karena Allaah menciptakan akal dan nurani dan menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk, bahkan hewan sekalipun agar manusia dapat berpikir, menghayati, dan menguak tujuan Allaah menciptakan manusia hidup di dunia.

Jika dikaji dan diteliti, manusia memiliki dua tujuan hidup di dunia, yakni sebagai khalifah dan untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 30 Allaah menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin bagi diri, lingkungan, dan negaranya dan QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa Allaah menciptakan manusia tiada lain hanyalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya. 

Hal ini berarti bahwa setiap manusia merupakan pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya di yaumil akhir dan manusia memiliki kewajiban untuk menghamba bukan penyembah, mengingat kepada Tuannya (Rabbnya) kapanpun dan dimanapun secara konsisten tanpa ada pilihan sementara dan waktu khusus, seperti saat makan, mandi, bercermin, berada di dalam pesawat, di kamar tidur, berkumpul dengan keluarga semua menjadi ibadah jika dilakukan atas dasar niat karena-Nya. Penting bagi kita mengetahui dan merefleksi dimanakah letak kita sebagai manusia, seorang penyembah yang hanya kian waktu, waktu senggang mengingatnya ataukah seorang penghamba yang senantiasa istiqamah mengingat dalam kondisi apapun?

2. Values Islam

Jika nilai-nilai ke islaman sudah kita pupuk sedari sekarang, akan menghasilkan buah manis dan menuai kebaikan bagi setiap orang. 

Sebagai contoh suatu kisah seorang pemimpin terbaik di masanya, dijuluki Umar II, cucu seorang khalifah Umar bin Khattab, yakni Umar bin Abdul Aziz ketika melakukan rembukan rapat bersama gubernur yang membahas kesejahteraan umat di sebuah aula besar dimana aula tersebut dibangun atas dana baitul mal. Kemudian seseorang di antaranya menanyakan kepada Umar II

"Yaa khalifah, bagaimana keadaanmu sekarang? Engkau terlihat letih dan lelah." 

Lalu Umar II meminta untuk mematikan lampu di aula besar tersebut. 

Jika ditilik ulang, secara tersirat, dengan dimatikannya lampu, Umar II secara detail dan refleks menerapkan nilai-nilai keislaman. 

Pertanyaan yang dilontarkan kepadanya merupakan urusan personal atau menyangkut pribadi dan tidak memiliki kaitan dengan umat dan posisi beliau berada (aula yang dibuat dari baitul mal) yang seharusnya membahas mengenai kesejahteraan umat.

Dalam hal ini, jika nilai-nilai keislaman (dzikir pagi dan petang, shalat sunnah, penerapan sirah nabawiyyah) sudah dipupuk dan diterapkan oleh seorang muslim, maka secara tidak langsung akan mendorong bagian internal dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di sisi Tuhannya, memanfaatkan potensi yang ada, dan berusaha berubah menuju jalan yang diridhoi-Nya.

3. Jiwa

Satu di antara tiga poin di atas yang menjadi pondasi awal, landasan, dan hal krusial adalah jiwa. Analogi sederhana, bayangkan saja suatu raga tanpa jiwa seperti orang wafat yang hanya terdiri atas tumpuan tulang yang berbalut kulit, bersatu, tetapi tanpa ada jiwa yang mengatur dan mengendalikan. 

Jiwa itu ada dan menjadi titik balik kita menuju surga-Nya dan meyakini adanya hari akhir.

Sebagaimana QS. An-Nisa ayat 122 yang menyatakan bahwa surga itu ada. Nabi Adam berasal dari surga begitupun dengan kita. Lantas mengapa kita berdiam diri, tidak menggerakan hati dan mengupayakan untuk kembali pada tempat asal kita, yaitu surga?

Oleh sebab itu, untuk menjadi seorang muslim/ah yang produktif, di samping fokus, tenaga, dan waktu penting mengingat manfaat yang akan didapat, memaknai kelima pilar produktivitas, dan mencoba menerapkan tiga hal yang cenderung dilewatkan seorang muslim.

Minggu, 10 Januari 2021

Menggapai Langit Bersama Pahlawan Hati

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

Asssalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Merhaba! Salam hangat, salam ukhuwah

Pahlawan hati, siapa dia? 

Kiranya ketika saya merasa berada didekat dengan orang yang memiliki kepribadian luar biasa, memberi insight atau yang mampu membuka pikiran saya, dan membagikan ilmunya dengan penuh keikhlasan maka dialah yang saya maksud. 

============

Pernah gak ukhti fillah merasa ada dorongan untuk berubah? Ngerasa hidup gini-gini aja, gaada perubahan, dan bilang sama diri kalau "Saya Harus Berubah" ? 

Saya yakin pasti pernah dan di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya.

Kala itu, suatu harapan muncul dalam benak dan diri saya, bahwa

S a y a    h a r u s    b e r u b a h

Bukan hal yang baru dan pertama kali muncul, bahkan lebih dari puluhan kali rasa dan keinginan untuk berubah itu menemani. Bergerak atau tergantikan. Itulah kata yang menjadi pegangan saya untuk meng-upgrade diri, untuk berubah, untuk bergerak jauh lebih baik.

Percaya atau tidak, ketika kita bertekad untuk berubah dan menghilangkan rasa malas (yang selalu menghantui) secara tidak sadar Allaah telah menolong kita, Allaah akan membukakan jalan, Allaah membukakan pintu rahmatnya, dan Allaah tidak segan untuk memberikan teman, sahabat, dan lingkungan baik yang akan membimbing kita di jalan yang Allaah ridhoi.

Sebagaimana dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 dalam firman-Nya "....Sesungguhnya Allaah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan dirinya sendiri dan jika Allaah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Dari ayat tersebut dapat kita ambil sisi baiknya bahwasanya Allaah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang sedang berusaha untuk berubah yang bermakna bahwa Allaah akan berikan jalan (dari mana saja) untuk hamba-Nya yang mau berubah dan Allaah akan mengubah suatu kaum setelah mereka sendiri yang mengubah diri mereka yang bermakna bahwa setelah kita memiliki tekad untuk berubah, maka di sinilah yang menjadi bukti kasih sayangnya Allaah, di sinilah Allaah berikan Al-Huda petunjuk bagi mereka yang melihat sisi kebesaran Allaah.

**

Satu persatu Allaah mulai bukakan jalan bagi saya.  

Saat scrolling ig sudah menjadi hal masif yang biasa saya lakukan, disitulah awal mula Allaah bukakan pintu rahmat-Nya. Dari feed instagram yang saya temui kala itu, saya melihat postingan teteh yang menjadi mentor saya (pahlawan hati) kali ini.

Dengan segala ke Mahaagungan-Nya, Allaah membukakan pikiran dan hati saya untuk mencoba menulis sebuah tulisan esai dengan tekad mengalahkan rasa malas dan mengalahkan rasa "Tidak Percaya Diri". Pengumuman ditunda selama dua minggu hingga tiba saatnya pengumuman dan saya dinyatakan lulus. Terharu, senang, bahagia, dan campur aduk rasa yang dialami saat itu. Namun, dibalik itu semua terdapat sebuah keyakinan yang menghantarkan saya pada tujuan ini dan untaian do'a yang saya panjatkan pada-Nya.

Bayangkan, yakini, berdo'a. Itu yang menjadi landasan saya dalam menggapai suatu impian. 

Selama itu saya semakin yakin bahwa dengan keinginan dan berazzam, maka Allaah akan bukakan jalan, Allaah yang maha baik akan selalu menemani di setiap langkah dan jalan bagi siapa saja yang mau  B E R U B A H.

Satu minggu pertama kami diberi tiga hal yang menantang. Amalan yaumi, seperti tahajjud, tilawah satu juz sebelum pukul 05.00, dzikir pagi, yang mana ketiga amalan ini membuat saya berpikir bahwa sebenarnya saya dan kita mampu melakukannya, hanya saja ego mengikuti rasa malas yang selalu menjadi penawar.

***

Ketika membahas seorang muslimah yang menjadi tolak ukur tidak lain dan tidak bukan adalah seorang perempuan, seorang akhawat, atau seseorang yang menganut agama Islam. 

Pernahkah terpikir dibenak kita bahwa menjadi seorang muslimah itu tidak hanya dapat notabene yang mana muslimah adalah seseorang yang memakai kerudung, bajunya menutupi badan, mengamalkan amalan yaumi tanpa terlewat, dzikir pagi petang, menghormati siapapun yang lebih tua, tetapi jauh dari itu.

Seorang muslimah mesti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan lebih komprehensif, seperti sudahkah menjadi seorang muslimah yang tidak sekadar mengenakan kerudung tetapi tau alasan mengapa dia mengenakan kerudung, apa karena ikut-ikutan atau sekadar gengsi semata? sudahkah mengamalkan amalan yaumi dan tau apa ganjarannya? sudahkah mengamalkan apa saja amalan yang harus dilakukan selama masa haid? sudahkah mengamalkan 10 sifat muwashafat? sudahkah membaca sirah nabawiyyah hingga usai? sudahkah mengamalkan ilmu mengenai birrul walidain? sudahkah dzikir pagi petang membawa perubahan? sudahkah merasakan kenikmatan dalam shalat? sudahkah dengan shalat menjadikan hari dan hati kita tenang? sudahkah sudahkah sudahkah.....

Begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab dan menjadi PR bagi kita semua bahwa jadilah seorang muslim/muslimah yang mampu memahami ilmu yang telah didapat, mengamalkan ilmu yang telah kita dapat, baik dengan mengamalkan dari diri sendiri, berbagi pada keluarga, teman, kerabat, maupun masyarakat luas.

Seperti kutipan yang disampaikan teteh mentor "Contoh saja bintang yang tidak hanya bersinar, tetapi juga menyinari yang menebar kebermanfaatan sebagai langkah membawa keberuntungan". 

Begitu banyak contoh seorang muslimah yang dapat dijadikan teladan, selain para istri dan shahabiah nabi, yang menjadi nyata di masa ini, mulai dari kalangan anak muda, dewasa, hingga mereka yang sudah tua tidak pantang mundur, tidak menyerah, tidak cepat mengangkat tangan, tidak cepat menaikan bendera sebelum akhirnya sampai pada tujuan dan ini memperlihatkan bahwa menjadi muslimah tidak hanya cukup dengan ilmu sedikit, terus belajar, terus menggali, mengkaji, mencari referensi, memperbanyak ilmunya dan merendahkan hati sebagaimana peribahasa padi yang kian berisi kian merunduk. Maka, marilah menggapai ilmu sebaik mungkin, jadilah muslimah yang mampu mengamalkan ilmu dan memahami apa yang kita lakukan. Mereka bisa, mengapa saya tidak? Kita bisa menjadi seperti mereka, bahkan lebih dari mereka. 

 ~bayangkan, yakini, berdo'a~

Janganlah takut saat melangkah karena sungguh Allaah berada di dekatmu, Allaah selalu menyaksikanmu, Allaah selalu mendengarkan keluh kesahmu. Berdo'alah dan mintalah pertolongan-Nya.

Mereka yang sudah berumur saja masih bersemangat, lantas mengapa tidak dengan kita yang masih muda? ~ Teh Stani Juanita