بِسْــــــــــــــــــمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pernah gak temen-temen ngerasa minder sama orang lain? in.se.cure gitu sama kemampuan orang lain? Macam contoh konkret berikut,
Kenapa dia bisa bangun jam tiga pagi padahal itu pagi banget? Kenapa kok dia bisa menyempatkan waktunya untuk dzikir pagi dan petang? Kenapa dia bisa menghapal Al-Quran satu juz satu hari padahal ini beratnya minta ampun? Kenapa sih dia bisa buat artikel yang impressive? Kenapa dia bisa lulus kuliah 3,5 tahun? Otaknya itu encer banget. Kenapa dia bisa berbagi padahal ekonominya minim banget? Kenapa dia bisa dengan mudah memaafkan orang lain? Kenapa dia bisa share ilmunya begitu mudah di instastorynya? Kenapa dia bisa rutin posting feed di ig dan tulisannya membuat pikiran aku terbuka? Kenapa jalan cerita yang dia buat itu runtun banget sih?
=== Kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa dia? ===
Interesting!
Kata 'Kenapa' (sebagian kita tau) terselip makna suatu 'Alasan' yang mana secara masif, untuk menjawab kata 'Kenapa' kita butuh prolog kata 'Karena'.
Faktanya, frasa 'Tabiat Manusia', kita atau bahkan hampir semua manusia hanya mampu melihat apa yang diperlihatkan Allaah melewati si 'Dia'.
Secara konkret kita bisa men-judge si 'Dia' begini dan si 'Dia' begitu. Namun, terlepas dari itu, kita tidak pernah tau seberapa berat dia melangkah, seberapa berat dia mengerahkan diri dan potensinya untuk memanifestasi harapannya, seberapa berat dia melawan rasa malasnya untuk bangkit di samping lebih dari ribuan kali gagal menghampiri, dan kita tidak pernah tau seberapa banyak dia menghadirkan dirinya seraya memohon pada Tuhan-Nya dengan penuh kelembutan, mencurahkan segala perasannya sambil merintih nangis dan berdo'a "Ya Allaah, hamba lelah, hamba cape, hamba tidak sanggup lagi Mengapa ini berat ya Allaah, mengapa ini sangat sulit untuk dijalani? Mengapa ya Allaah ujian satu belum selesai Kau timpakan lagi kesedihan mendalam?"
Dan pada akhirnya, tidak baik jika kita terlalu berbangga diri, menganggap diri lebih baik, paling baik, paling keras dan semangat dalam berjuang daripada si 'Dia' yang kau anggap remeh.
Maka, betapa penting kita menanamkan sikap berprasangka baik pada mereka yang memiliki semangat juang tinggi, berjalan dimuka bumi dengan penuh semangat, dan yang kita anggap mereka itu adalah orang-orang hebat hebat. Bisa jadi, di sana terdapat ridho Allaah lebih menyelimuti dia dibanding kita. Boleh jadi, bangunnya dan niatnya dia lebih lillaah daripada kita. Bisa saja keikhlasan hatinya lebih mendatangkan manfaat dan berkah di banding kita. Karena kita tidak tau, seberapa besar usaha dia dalam melibatkan Allaah dalam setiap untaian detik hingga ajal mendatang.
Kilas balik zaman dahulu, guru-guru, ulama, dan para imam besar, budaya mereka adalah selalu terpacu dalam hal melakukan kebaikan, walau kebaikan itu bernilai kecil. Layaknya bola salju, kecil menuju besar, menggulung kebaikan menuju kebaikan, semakin besar bola salju, maka kebaikan semakin banyak dan mendatangkan keberkahan dalam hidup sehingga suatu harapan menjadi 'abdan syakura, seorang hamba yang selalu bersyukur dan menjadikan Surga-Nya sebagai impian akan terwujud.
Kebaikan tersebut dapat menerangkan kegelapan dan meluaskan kesempitan, mengubah peradaban, dan mengenang sejarah di zamannya. Suatu karya yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Semakin canggihnya teknologi, segala kemudahan kita dapatkan, karya yang mereka buat dapat disantap dengan mudah oleh kita pada masa sekarang.
Seperti Ubaid bin Ya'isyi, seorang ulama besar dalam tafsir hadist dengan kegigihannya beliau tidak rela menyia-nyiakan waktunya untuk bersantai ria, tidak seperti kita yang memiliki jiwa bermalas-malasan dan rebahan. Beliau rela memanfaatkan waktunya untuk -menulis- hadist-hadist yang disampaikan nabi selama -tiga puluh tahun- lamanya. Betul, tiga puluh tahun. Maa syaa Allaah
Jika kita renungkan, tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar, tidak macam satu kedipan mata, bahkan ketika makan saja beliau disuapi oleh adik perempuannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ammar bin Raja' bahwa Ubaid bin Ya'isyi mengatakan "Aku tidak makan mala dengan tanganku sendiri, tetapi saudari perempuankulah yang menyuapiku diseriap malam selama tiga puluh tahun, sementara aku terus menulis hadist."
Lalu, Ibn Aqil dengan karyanya mampu membuat 20 buku tulis dalam beberapa disiplin ilmu dan karyanya yang dahsyat 400 - 800 jilid dalam bidang agama dengan salah satu kitabnya yangt terkenal, yaitu Al Funun. Selain itu, Ibn Main dengan karyanya dapat memenuhi 100 rak buku dan 14 wadah besar karya tulis. Sedangkan Ibnu Jauzi yang dapat menulis 600 kitab dan seorang ulama islam yang tidak asing lagi di telinga kita, Ibnu Taimiyyah dengan karyanya yang tidak dapat dihitung dan sudah tersebar diberbagai belahan dunia.
Betapa luar biasanya bentuk mujahadah, bersungguh-sungguhnya para ulama-ulama terdahulu dalam menebar dan menabur kebaikan hingga karyanya dapat kita terima dengan mudah di masa ini sebagai bentuk mahabbah, cinta kepada Rabbul'alamiin.
Cukup menjadi bahan renungan bagi diri ini, "Sudah seberapa sungguh kau menebar manfaat? Sudah seberapa besar dan banyaknya karya yang telah kau ukir demi diri, keluarga, masyarakat, dan islam itu sendiri? dan Seberapa sungguhkah engkau mengemukakan cinta pada Tuhanmu?
Bukankah Siti Khadijah rela memberikan seluruh hartanya, demi Islam sebagai bukti dia mencintai Allaah dan Rasulnya? Bukankah Abu Bakar rela memberikan seluruh hartanya tanpa menyisakan untuk keluarganya dan hanya berpegang pada Rabb dan Tuhannya? Bukankah Asma binti Abu Bakar rela menaiki jalanan terjal nan tinggi padahal sedang dalam fase hamil besar untuk memberikan asupan energi untuk Rasulnya sebagai bukti dia mencintai Allaah dan Rasulnya?
Wahai diri, kau hanya butuh niat, komitmen, dan kemauan untuk mencapai impian yang belum kau realisasikan. Setelah tau betapa banyak para pembelajar terdahulu yang begitu bersemangat memberikan karyanya sebagai bukti cinta terhadap Tuhannya, mengapa kau begitu cepat untuk menyerah, padahal, niat, komitmen, dan kemauan jika kau pegang maka semua impianmu akan tercapai."
Jadi, semangat berbenah diri, siapkan amunisi, dan siapkan diri untuk bereksekusi dan renungkan
==== Seberapa besar mujahadah kita dibandingkan para pembelajar dahulu? ====

