بِسْــــــــــــــــــمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
productiveandfree.com
Era globalisasi, era resolusi menuju 5.0 menjadi bukti nyata semakin canggihnya teknologi. Terlebih dengan adanya prevalensi coronavirus disease 2019 (covid-19) hampir semua kegiatan berbasis online. Namun, kesempatan lebih banyak beraktivitas di rumah -Work from Home- terkadang membuat kita lalai, lebih banyak santai, dan rebahan menjadi pelampiasan sehingga imbasnya keproduktifan bisa saja menurun.
Apakah sibuk = produktif ?
Sebagian dari kita selama ini beranggapan bahwasanya produktif memiliki arti yang sama dengan sibuk, orang produktif itu tidak punya waktu, dan orang produktif itu tidak fokus. Namun, pemahaman tersebut keliru setelah kita memaknai arti produktif yang sebenarnya.
Orang produktif bukan orang yang sibuk, bukan orang yang tidak punya waktu, bukan juga orang yang tidak fokus. Namun sebaliknya, orang produktif ialah orang yang punya waktu dan tau bagaimana ia mengelolanya, dapat menyisihkan waktunya kapan ia harus istirahat, bermain, berlibur, menghibur diri, dan orang produktif ia mampu untuk fokus dengan melibatkan hatinya, jiwanya secara totalitas, dan pikirannya terhadap apa yang dikerjakan.
Orang produktif adalah orang yang mampu membuat pilihan cerdas atas apa yang direncanakan setiap harinya. Dengan kata lain produktif dapat berarti mampu menempatkan sesuatu pada kadar dan tempatnya. Hal ini berkaitan dengan kegiatan yang sudah kita buat, rencana yang sudah kita susun, dan pemikiran yang sudah kita pecah menjadi bagian list pada to-do list dapat dikerjakan tepat waktu dan memiliki waktu luang untuk istirahat, sehingga timbul keseimbangan dari segi kesehatan dalam hal istirahat, segi emosi seperti tenang, seru, dan bahagia.
Namun, perlu diingat bahwa produktif itu bukan sebuah kejadian dan hanya berlaku satu hari, tetapi produktif itu suatu perencanaan dan mampu secara konsisten atau continue membiasakan diri untuk tepat dalam menempatkan sesuatu pada kadar dan tempatnya.
Lalu apa yang membedakan antara produktif dengan muslim produktif?
Secara umum, menjadi seorang produktif setidaknya memegang tiga poin pokok, yakni fokus, energi, dan waktu. Hal yang membedakannya dengan seorang muslim adalah ibrah atau manfaat yang diperoleh dari sesuatu yang dikerjakannya. Apakah sesuatu yang dikerjakan membawa dampak positif bagi diri atau malah memberikan dampak buruk.
Berkenaan dengan produktivitas dan jika dikaitkan dengan Islam, pernahkah terlintas dibenak kita, bukankah Islam memiliki pilar produktivitas? Yakni kelima pilar pada hadist "Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya hingga dia ditanya tentang lima perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dalam hal apa hartanya ia belanjakan, dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya." Tetapi mengapa masih banyak muslim/ah yang buta huruf? Masih banyak muslim/ah yang melakukan tindak kriminal? Masih banyak muslim/ah yang tidak menghormati hak asasi manusia?
Dalam hal ini, setidaknya terdapat tiga poin penting yang sering manusia, muslim/ah lupa dan lewatkan
1. Tujuan hidup di dunia
Menjadi keutamaan yang luar biasa bagi manusia karena Allaah menciptakan akal dan nurani dan menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk, bahkan hewan sekalipun agar manusia dapat berpikir, menghayati, dan menguak tujuan Allaah menciptakan manusia hidup di dunia.
Jika dikaji dan diteliti, manusia memiliki dua tujuan hidup di dunia, yakni sebagai khalifah dan untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 30 Allaah menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin bagi diri, lingkungan, dan negaranya dan QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa Allaah menciptakan manusia tiada lain hanyalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.
Hal ini berarti bahwa setiap manusia merupakan pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya di yaumil akhir dan manusia memiliki kewajiban untuk menghamba bukan penyembah, mengingat kepada Tuannya (Rabbnya) kapanpun dan dimanapun secara konsisten tanpa ada pilihan sementara dan waktu khusus, seperti saat makan, mandi, bercermin, berada di dalam pesawat, di kamar tidur, berkumpul dengan keluarga semua menjadi ibadah jika dilakukan atas dasar niat karena-Nya. Penting bagi kita mengetahui dan merefleksi dimanakah letak kita sebagai manusia, seorang penyembah yang hanya kian waktu, waktu senggang mengingatnya ataukah seorang penghamba yang senantiasa istiqamah mengingat dalam kondisi apapun?
2. Values Islam
Jika nilai-nilai ke islaman sudah kita pupuk sedari sekarang, akan menghasilkan buah manis dan menuai kebaikan bagi setiap orang.
Sebagai contoh suatu kisah seorang pemimpin terbaik di masanya, dijuluki Umar II, cucu seorang khalifah Umar bin Khattab, yakni Umar bin Abdul Aziz ketika melakukan rembukan rapat bersama gubernur yang membahas kesejahteraan umat di sebuah aula besar dimana aula tersebut dibangun atas dana baitul mal. Kemudian seseorang di antaranya menanyakan kepada Umar II
"Yaa khalifah, bagaimana keadaanmu sekarang? Engkau terlihat letih dan lelah."
Lalu Umar II meminta untuk mematikan lampu di aula besar tersebut.
Jika ditilik ulang, secara tersirat, dengan dimatikannya lampu, Umar II secara detail dan refleks menerapkan nilai-nilai keislaman.
Pertanyaan yang dilontarkan kepadanya merupakan urusan personal atau menyangkut pribadi dan tidak memiliki kaitan dengan umat dan posisi beliau berada (aula yang dibuat dari baitul mal) yang seharusnya membahas mengenai kesejahteraan umat.
Dalam hal ini, jika nilai-nilai keislaman (dzikir pagi dan petang, shalat sunnah, penerapan sirah nabawiyyah) sudah dipupuk dan diterapkan oleh seorang muslim, maka secara tidak langsung akan mendorong bagian internal dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di sisi Tuhannya, memanfaatkan potensi yang ada, dan berusaha berubah menuju jalan yang diridhoi-Nya.
3. Jiwa
Satu di antara tiga poin di atas yang menjadi pondasi awal, landasan, dan hal krusial adalah jiwa. Analogi sederhana, bayangkan saja suatu raga tanpa jiwa seperti orang wafat yang hanya terdiri atas tumpuan tulang yang berbalut kulit, bersatu, tetapi tanpa ada jiwa yang mengatur dan mengendalikan.
Jiwa itu ada dan menjadi titik balik kita menuju surga-Nya dan meyakini adanya hari akhir.
Sebagaimana QS. An-Nisa ayat 122 yang menyatakan bahwa surga itu ada. Nabi Adam berasal dari surga begitupun dengan kita. Lantas mengapa kita berdiam diri, tidak menggerakan hati dan mengupayakan untuk kembali pada tempat asal kita, yaitu surga?
Oleh sebab itu, untuk menjadi seorang muslim/ah yang produktif, di samping fokus, tenaga, dan waktu penting mengingat manfaat yang akan didapat, memaknai kelima pilar produktivitas, dan mencoba menerapkan tiga hal yang cenderung dilewatkan seorang muslim.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar