Sabtu, 06 Maret 2021

Berbagi untuk Abadi

Bismillaah

Hari ini, hari terakhir mentoring bareng teh Juan. Yaa Allaah so sad :' Engga nyangka, engka kerasa, tiga bulan lamanya ditemani teh Juan dan teteh fasil KMC lainnya yang engga pernah luntur asa dan semangatnya buat aku dan teteh-teteh lainnya. 

Sebelumnya, aku mau berterima kasih banyak banyak banyak sama teteh mentoringku, teh Juan yang maa syaa Allaah banget, membagikan effort dan ilmunya yang outstanding, hingga tamparan-tamparan yang membuat aku tersungkur malu, akhirnya menyadari, mencoba memperbaiki, dan mencoba untuk mengistiqamahkan baarakallaahu fiik tetehh (((:

Dan tidak lupa ucapan terima kasih banyak jugaa kepada teteh fasil yang sudah ikhlas membangunkan kami continuously, mengawasi (indirectly), dan sudah setia dan sabar menuntun kami, baarakallaahu fiikum tetehh (((: 

Aku mau izin cerita sedikit teh pengalaman setelah mengikuti KMC ini. Banyak perubahan yang aku alami, Alhamdulillaah. Awalnya dari membiasakan amalan yaumi yang sebelumnya masih bolong-bolong, salah satunya dzikir pagi petang. Tersadarkan setelah teteh menyampaikan konsep "Mindfullness" dan mencoba untuk mencari tau "Kenapa sih harus dzikir pagi petang?" Akhirnya tercerahkan saat mencari keutamaannya lewat hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari :

Rasulullah bersabda "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-Nya dan orang yang tidak berdzikir seperti perbedaan antara orang yang hidup dengan orang yang mati"

Maa syaa Allaah banget :' 

Semenjak dari situ aku menyadari betapa pentingnya menjaga amalan yaumi ini. Terlebih saat aku baca lagi keutamaan di salah satu dzikir pagi petang ini, disebut sebagai rajanya istighfar, sayyidul istighfar. Keutamaan yang luar biasa adalah saat kita membaca ini dengan penuh keyakinan diwaktu sore, lalu kita wafat pada malam hari sebelum pagi, maka kita termasuk ahli Surga. dan saat kita membaca ini dengan penuh keyakinan diwaktu pagi, lalu kita wafat pada siang hari sebelum sore, maka kita termasuk ahli Surga.

Yaa Rabb.. 

Salah satu yang lain yang memberikan positive impact ke diri aku, yaa teh setelah mengikuti KMC ini.. yaitu menulis. Dari dulu aku pengen banget nulis, tapi aku belum kasih power buat diri aku, dinanti-nanti dan tidak terjadi. Sampai-sampai aku targetkan ditahun ini pokoknya aku harus nulis. Dan baarakallaahu tetehh, aku terharu bangeet skenario Allaah itu beneran indahh bangeet. Kata teteh "Selalu ada waktu kalau kita mau" dan ini menjadi jalan buat aku bisa membiasakan untuk menulis. Terpana lagi ketika teteh membagikan ilmu tentang upaya para mujahid dulu yang mereka bahkan tidak hidup kecuali menulis, berbagi untuk abadi. Huwaaaa

Masih banyak banget sebenarnya hal-hal yang aku dapatkan dari KMC ini, tehh

Baarakallaahu fiikum teteh semuaaa.. Jazaakumullaahukhaiir.. Semoga Allaah selalu melindungi teteh dan keluarga, semua ilmu teteh bermanfaat dan mengalirkan pahala dan amal jariyah. Aamiin yaa mujibassaailiin...

===========================

So, dari materi terakhir kali ini mengingatkanku pada 10 sifat yang mesti dimiliki seorang muslim, muwashafat muslim. Dan itu menjadi dasar sifat yang sudah semestinya dimiliki setiap muslim. Masih menjadi PR terbesar untuk dapat menerapkan 10 sifat ini hingga membawa ruh dan menjadikan jati diri yang lebih unggul. Yaa Allaah aamiin, kuatkan yaa Rabb..

Daaan berkenaan dengan itu, perlu kita ketahui untuk menuju pada level berikutnya, ada lima aspek untuk menjadi sosok gemilang, layaknya Rasulullah.. Kenapa ini penting? Karena dengan tahu, maka kita terus berupaya untuk senantiasa Ittiba, mengikuti apa yang menjadi suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad Shallu'alaih..

Kelima aspek tersebut, yakni

1. Alim dan Mutsaqqaf

Hal yang mudah untuk dipahami mengenai ini adalah saat menulis. Bukan hanya sekadar menulis, mencantumkan setiap huruf-huruf, menata menjadi sebuah kalimat, tetapi tulisan yang mampu mencerahkan ilmu-ilmu Allaah (segala bidang kajian ilmu, baik ilmu dunia ataupun ilmu akhirat). 

2. Faqih dan Alim

Alim layaknya apoteker dan Faqih layaknya dokter yang tau obat apa yang baik bagi pasien A dan tau obat mana yang cocok bagi pasien B.

Singkatnya, Faqih itu tau tempat apa dan kepada siapa ilmu itu disampaikan.

3. Bashirah Bis siyasah

Tau mengenai perpolitikan walaupun dalam konteks lingkup kecil dan sederhana. Hak-hak yang mesti didapat oleh suatu warga kampus misalnya dan menjungjung rasa kedamaian misalnya.

4. Bashirah Bit Tadbir

Konsep ini sama dengan konsep tidak dzalim. Artinya menempatkan sesuatu pada tempat dan kadarnya. Seperti Rasulullah menempatkan Umar menjadi pemimpin dan bukan panglima perang. Rasulullah menjadikan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash menjadi panglima perang.

5. Al-Qiyam bis Suunir Ra'iyah li mashlahatid dunyaa wad diin

Singkatnya ini merupakan gabungan dari aspek ketiga dan keempat. Sebagai implementasinya adalah tawakal dengan menyerahkan semuanya hanya pada Allaah, tugas kita hanyalah ikhtiar maksimal.

Semoga Allaah mudahkan kita untuk menjadi hamba yang selalu istiqamah, sosok Rabbani hingga wafat dalam keadaan baik, dan sebaik-baiknya insan kamil

 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin ((;

Minggu, 28 Februari 2021

Istiqamah, yuk


Awalnya masih bingung ketika ditanya, apa kendaraan sepanjang usia?

Ternyata itu adalah sebuah kendaraan yang mengantarkan kita pada suatu tujuan, dan itu adalah

I s t i q a m a h

Berbicara seputar istiqamah rasanya agak berat, karena istiqamah bukan sekadar ucapan, konsisten, atau kebiasaan, tetapi jauh dari itu. Teh Juan dalam mentoring kali ini mengutip apa yang disampaikan Ustaz Muhammad Nurul Dzikri mengenai istiqamah. Ternyata, istiqamah punya makna yang jauh lebih kompleks. 

Dia yang terus memperbaiki diri dengan kualitas yang dimiliki, semisal mengaji dengan memperbaiki tahsinnya, makharijul hurufnya, dan tajwidnya. Bukan hanya membenahi, tetapi juga meningkatkan kualitas, meningkatkan ketauhidan kepada Rabb kita, bagaimana kita bisa merasakan dampak dari amalan yang kita lakukan.

Rasanya berat berjalan istiqamah menuju tujuan dan penuh lika liku, tetapi kalau kita meyakini bahwa ada Allaah Yang Mahakuasa, Allaah Yang Maha Penolong, maka dengan meminta pertolongan kepada-Nya semua akan terasa mudah, semua akan terasa tenang.

Sebagaimana dalam QS. Al-Ahqaf ayat 13, yang artinya

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami adalah Allaah", kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap merka dan mereka tiada pula berduka cita."

Maa syaa Allaah, daleeem.. jadi, diri yang lemah ini, tetap dijalan istiqamah, dan mohon pertolongan pada Allaah aja udah lebih dari cukup..

tapii, makhluk Allaah yang suka usil menggoda kita engga mau liat kita ngaliirr terus istiqamah. Selalu ada aja tipu daya mereka untuk menggoda kita. 

tapi.. Jangan juga dijadikan excuse, karena "Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah" - QS. An-Nisa : 76

"Sebenarnya kita mampu, kok. Kitanya aja yang ngerasa gak mampu, buat bualan excuse. Jadii, Wahai diri, yuk bangkit, yuk istiqamah, jadikan ia sebagai kendaraan yang mengantarkanmu pada ujung yang baik, yakni husnul khatimah."

kutipan yang selalu kuingat 

'Jangan kalah sama diri sendiri, rugi banget' - Teh Juan "

Minggu, 21 Februari 2021

Manusia Langit

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mentoring hari ini membahas mengenai muslim wal muslimah yang luar biasa banget. 

Seorang perempuan yang hidup di zaman Rasulullah, seorang perempuan, yang bisa disebut perempuan tomboy, hidup di zaman Rasulullah. 

Kala itu masa perang, masa penuh lumuran darah, penuh isinya sama orang yang wafat karena terluka oleh goresan pedang tajam. dan dimasa itu, seorang perempuan bernama Nusaibah binti Ka'ab, wanita, perempuan, muslimah yang tangguh, tomboy selalu ikut perang sama Rasulullah. 

Bayangin, perempuan di zaman sekarang itu beda banget. Ketika melihat kerusuhan aja, suka sembunyi, takut melawan musuhnya, bahkan ketika di bangku sekolah melihat teman-teman berantem tiada ulah selain berteriak. Bukan memisahkan malah menambah kerusuhan. 

Tapi, berbeda dengan seorang para perempuan tangguh ini, ikut perang di masa Nabi. Nusaibah. Beliau rela mewakafkan dirinya, mewakafkan.. memberikan dirinya untuk berjihad di jalan perang. 

Kala itu, Rasulullah sedang dalam medan perang bersama Nusaibah. Hantaman pedang dari berbagai sudut membuat seorang Nusaibah membuat tameng perlindungan dan mengerahkan segala potensi dalam dirinya untuk melindungi Rasulullah. Dengan ikhlas dirinya dia korbankan untuk melindungi Rasulullah, agar Rasul tetap dalam keadaan baik. Dia ikhlas terluka parah bahkan sampai 12 titik luka  bahkan sampai mengenai lehernya. Betapa besar bukti cintanya kepada baginda bahkan rela untuk mati. 

Lalu, kisah dari kisah termahsyur ketika seorang laki-laki mengambil makanan yang hanyut di pinggir sungai. Dan seperti yang Teh Juan bilang bahwa ketika Tauhid sudah menembus dan menetap dalam diri seseorang, maka sudah semestinya kita menerapkan mindfullness dalam diri, layaknya seorang laki-laki ini yang mengikuti arus aliran sungai tempat makanan diambil, sebagai rasa memenuhi rasa tanggung jawab atas ketidakhalalan dari makanan yang telah ia ambil, maka ia pun menemui orang yang memiliki tanaman tersebut.

Hingga tiba ia menanyakan "Apa hal yang mesti saya bayar agar Bapak (pemilik makanan) berkenan menjadikan kehahalan pada makanan yang ia ambil" Kemudian bapak ini berucap "Kau harus bekerja selama satu bulan dan ikhlas untuk tidak diberi upah" Tak puas dengan itu pemuda ini menanyakan kembali "Lalu apalagi" Bapak menjawab "Sudikah engkau menikahi anak ku yang tuli, buta, dan bisu"

Sebagian dari kita mungkin engga akan nerima seorang yang cacat fisik yang engga bisa ngapa-ngapain. Namun, begitu nilai-nilai keislaman sudah berada dalam dirinya, pemuda ini menerima dengan ikhlas dan menikahi anak dari bapak itu. Namun siapa sangka, ketika prosesi akad nikah telah berlangsung seketika ketika masuk menemui perempuan tuli, bisu, dan buta tadi berucap "Assalaamu'alaikum" 

Sontak laki-laki ini terkejut hingga dia kembali menemui bapaknya dan berkata "Siapa yang mengucapkan salam tadi" bapak menjawab "Dialah wanita yang bisu karena tidak pernah berucap kecuali sesuai dengan ajaran agama. Dialah wanita tuli yang tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak sesuai syariat, dan dialah wanita buta yang tidak pernah melihat sesuatu yang diajarkan islam."

Begitu maa syaa Allaah nya perempuan terjaga ini, Fathimah binti Ubaidilah yang kemudian melahirkan sosok Imam besar. Tiada muslim yang tidak tau, Imam Asy-Syafi'i seorang ulama yang dapat memahami dan menghapal Al-Qur'an diusia belianya, 7 tahun sekaligus dapat hapal sebanyak 30.000 hadist. Bahkan, diusianya 15 tahun mampu memberikan fatwa Islam, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Allaahu akbar!

Hikmah yang dapat dipetik bahwasanya seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagaimana dalam QS. An-Nisa ayat 36 "Laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik..." Allaah ciptakan seimbang. Buruk dapat buruk, baik dapat baik. Jadi bahan cerminan bagi diri, jika menginginkan imam yang baik, maka jadilah wanita yang baik. ((:

Maka, dari seorang pemuda dan seorang perempuan terjaga mampu menjadi bukti nyata

"1 Kebaikan saja bisa mengantarkan kebaikan yang panjang dan meluas, bahkan hingga generasi-generasi setelahnya. Efeknya bukan untuk diakhirat saja, tetapi juga secara gamblang Allaah tunjukkan lewat kisah ini." - TehJu

Maka, hadist nabi yang secara garis besarnya "Buatlah kebaikan walau kecil, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan mengantarkan kita pada Surga-Nya" sudah memberikan jalan, marilah berbuat baik, walaupun itu kecil, yang bahkan efeknya itu engga hanya sampai akhirat, bahkan kita masih hidup lewat keturunan pun mampu memberikan dampak dari nilai-nilai kebaikan yang kecil tadi.. yaa rabb, daleeem..

Minggu, 14 Februari 2021

Beramal walau Tidak Ternilai

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

 Hari Ahad dimana banyak orang menikmati weekend-nya, aku dan teman-teman Allaah berikan kenikmatan menuntut ilmu, kenikmatan menikmati waktu produktif.

    A l h a m d u l i l l a a h - segala puji bagi Allaah

 Di kesempatan kali ini teteh mentor memberikan asupan gizi ilmu bagi kami. Masih dibagian produktivitas, kali ini membahas tentang prioritas dalam produktivitas bersama buku penuh binar "Fiqh Prioritas".

Ada enam hal yang disuguhkan hari ini, di antaranya prioritas amal yang kontinyu di atas amalan terputus, prioritas amal yang luas manfaatnya di atas amal yang kurang manfaatnya, prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih langgeng kesannya, prioritas beramal pada zaman fitnah, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan, perbedaan tingkat keutamaan sesuai tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

Bahasan kali ini, ku ingin mengupas beberapa poin dari enam poin tersebut 

 let's straight into it!

Beramal, dalam beramal atau bersedekah kita mengenal pernyataan "Bersedekahlah walaupun sedikit, jangan ragu, jangan takut kehabisan harta". Pernyatan yang cukup klise kita dengar. Dalem.

Kita dianjurkan untuk bersedekah mesti itu sedikit materilnya."Engga masalah sedikit, yang penting kan ikhlasnya"

Oke, ke tangkap dan tergambar dalam otak kita, bayang-bayang, saat kita bersedekah kita bisa bantu orang yang butuh, betapa senangnya diri kita saat kita bisa menyisihkan sedikit harta, menginvestasikan harta demi kemashlahatan umat yang mana saat kita sudah menyisihkan sedikit harta kita itu bisa buat ngerasa diri kita bermanfaat banget buat orang lain.

Berbicara soal sedekah, jadi teringat pesannya Alm. Syeikh Ali Jabber. Bahwasanya bersedekah diwaktu pagi lebih utama karena waktu pagi salah satu waktu yang diberkahi Allaah. Syeikh Ali mengatakan bahwasanya barang siapa yang ingin doanya dikabulkan, semuanya dipermudah, dan membawa kebermanfaatan, maka bersedekahlah diwaktu pagi. Sisihkan walau sedikit masukkan ke dalam celengan atau sebagainya. Lalu setelah itu jangan lupa berdoa, apa pun yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sedikit demi sedikit, sedikit jadi bukit, setelah penuh kalengnya maka berikanlah pada khalayak mana pun, boleh masjid, sekolah tahfiz, anak yatim, dan sebagainya.

Maa syaa Allaah betapa indahnya berbagi. Bersedekah dapat mengabulkan keinginan kita. Amalan sedikit demi sedikit, tetapi kontinyu menjadi amalan yang dicintai Allaah. Sebagaimana dalam hadistnya riwayat Aisyah RA "Amalan yang paling dicintai Allaah adalah amalan yang langgeng walau sedikit"

Namun, amalan yang kita lakukan bukan amalan yang memberatkan kita, tetapi amalan sesuai dengan kemampuan. Sebagaimana hadist nabi pula yang diriwayatkan Aisyah RA  "Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan karena sesungguhnya Allaah tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan" 

Nah, di samping dari amalan yang dilakukan secara kontinyu, cobalah kita mulai memberikan manfaat lebih luas, lebih lama manfaatnya, dan lebih langgeng kesannya. Amalan tersebut adalah amalan jariyah. Semisal memberi wakaf Al-Qur'an yang mana ini menjadi aset pahala karena pahala mengalir sesuai dengan penerima wakaf membaca Al-Qur'an. 

Selain itu, hal yang prioritas dalam amalan jariyah ini adalah memperoleh ilmu lebih utama pahalanya, lebih prioritas pahalanya, ditambah jika dia mengajarkan ilmu yang didapatnya. Orang yang berilmu akan Allaah tinggikan derajatnya. Berkenaan dengan mengajarkan ilmu pada sesama, terdapat hadist nabi

"Sesungguhnya Allaah dan para malaikat serta penghuni langit dan bumi hingga semut yang ada pada lubangnya dan ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan shalawat atas orang yang mengerjakan kebaikan kepada manusia"

Maa syaa Allaah betapa besar pahala yang Allaah berikan pada siapa saja yang mau memberikan, mengajarkan, dan memanusiakan manusia di atas Ridho-Nya. Bahkan semut sekecil pun akan membacakan shalawat atas mereka yang mengerjakan kebajikan, Allaah.

Consequently, mari mulai eksekusi, mulai dari hal kecil, mulai kontinyu, dan memberikan manfaat jangka panjang agar pahalanya senantiasa mengalir ^^


Sabtu, 06 Februari 2021

Prioritas di atas Prioritas

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mentoring kali ini menjadi jalan terbukanya pikiranku. Diramu dari buku penuh binar "Fiqh Prioritas" teh Juan berbagi sejumlah ilmu yang sangat memberikan manfaat bagi kami terutama aku pribadi. 

Pikiranku jadi terbuka bahwa ternyata ada loh, tingkatan prioritas setiap kita (dari segi fiqh). Ternyata ada loh prioritas di atas prioritas yang lebih utama.

-Entah mengapa ketika aku menyebut kata "Prioritas", kok bernada? Kamu begitu tidak? Ahahaha ~ Intermezo-

Back to the topic. Mengenai prioritas ini, kita sering denger banyak orang yang berkali kali kali kali melaksanakan ibadah ritual wajib (bagi yang sanggup dari segi materi, fisik), satu diantara rukun islam, dan perintah wajib dari Allaah langsung, yakni ibadah H a j i. Atau bahkan berkali kali kali kali kali melaksanakan ritual ibadah sunnah, waktu kapan saja dapat berkunjung, dan siap dari segi materi, fisik juga iman, yakni ibadah u m r a h.

Namun, sebenarnya, jika kita berdiam lalu merenung, dan berpikir.. ternyata.. ada buanyak sekali hal lain yang mesti dibenahi sedari ini, di samping hal wajib yang berlaku sunnah setelahnya, yakni ibadah haji tadi. 

Betul ibadah haji menjadi suatu kewajiban. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah.. bahwa haji yang wajib itu cuman satu kali seumur hidup. Mengapa demikian? Sebab... Mari kita lihat firman Allaah berikut

"Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas (di antaranya) maqam ibrahim. Barangsiapa yang memasuki (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allaah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allaah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." - QS.Ali-Imran : 97

Maa syaa Allaah..

Mungkin secara sepintas, ayat yang aku garisbawahi tidak secara langsung memberikan jawaban, "Mengapa kita wajib haji hanya satu kali?" Hence, mari kita telaah. 

Indahnya, Allaah dalam artinya menyatakan bahwa untuk kewajiban melaksanakan ibadah haji itu ditujukan bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana (Baitullah). Mampu dari segi finansial, fisik, materil, dan hal-hal lainnya. Jadi, sudah jelas bahwasanya kewajiban seorang muslim mampu dalam melaksanakan ibadah haji itu hanya satu kali, bahkan sekali seumur hidup. 

Begitupun dengan umrah yang jatuhnya ibadah sunnah, which is, sunnah berarti tidak wajib dikerjakan dan jika dikerjakan tentu memiliki keutaman yang luar biasa.

NAH, beranjak dari hal tersebut, sebetulnya ada hal lain yang mesti dibenahi disamping keutamaan haji dan umrah tersebut, ada prioritas di atas prioritas. Misal, lebih utama kalau kita menyisihkan harta kita untuk makanan, kitab Al-Qur'an, pembangunan masjid bagi masyarakat Palestina, lebih utama jika kita membantu sesama muslim/ah dalam hal ekonomi karena superb orang yang lebih membutuhkan dari kita, lebih utama juga kita berinvestasi walau kecil sisipkan uang kita untuk menyantuni anak yatim, menabung untuk kemaslahatan umat di luar kita yang sangat sangat butuh bantuan kita. Di samping itu, contoh lain misalnya, ketika semakin masifnya pembuatan gedung sana-sini, padahal, pendidikan dan kesehatan saja masih kurang. Berlomba-lomba membangun masjid paling megah dan mewah, padahal, di daerah tersebut dapat dibilang cukup kalau perihal masjid memadai.

Terlepas dari itu, prioritas yang musti dipriotaskan lainnya, dari sisi diri kita sendiri yang mungkin belum memiliki uang sebanyak mereka, dapat bolak balik menuju kota yang ingin setiap muslim merasakannya, maka ayok kita coba untuk mengamalkan keutamaan ibadah shalat berjamaah dibanding shalat sendiri misalnya, yang sebenarnya kita tau keutamannya ~27 Derajat~ tetapi kita malah enggan melaksanakannya. Ayok coba kita prioritaskan sedekah walau kecil, bukankah Allaah tidak menilai dari banyak tidaknya, tetapi dari ikhlas atau tidaknya.

Kalau kita kilas balik, ternyata para sahabat dulu sangat bersemangat dan berlomba-lomba mengejar amalan yang paling mulia. Mereka senantiasa haus dalam mengejar amalan paling paling paling tinggi. Mari kita simak penggalan hadist dari Amr ibn Abbas

Ketika itu, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah "Ya Rasulullah, apakah Islam itu?" 

Beliau menjawab, "Islam adalah menyeru hatimu pada Allaah dan selamatkan kaum muslimin dari lidah dan tangan."

Lalu laki-laki itu bertanya lagi "Manakah Islam yang paling utama?"

Beliau menjawab, "Iman"

Lalu ditanya lagi, "Apa pula iman itu?"

Beliau menjawab, "Engkau beriman kepada-Nya, malaikat, Rasul, kitab-kitab, hari kebangkitan setelah mati."

Laki-laki itu bertanya lagi, "Manakah Iman yang paling utama?"

Rasul menjawab, "Berhijrah"

Lalu bertanya lagi, "Apa pula hijrah itu?"

Rasul menjawab, "Engkau meninggalkan kejelekan"

Laki-laki itu bertanya lagi "Lalu hijrah mana yang paling utama?"

Rasul menjawab, "Jihad"

Dia bertanya lagi "Apa itu jihad? Dan jihad mana yang utama?"

Rasul menjawab, "Hendaklah engkau memeranggi orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka dan jihad yang utama adalah jihad yang mempersembahkan harta dan nyawanya"

--

Dari penggalan hadist tersebut mengisyaratkan betapaa.. contoh bagi kita, sahabat Nabi berupaya besar, belomba-lomba dalam kebaikan untuk mencari dan mengejar keutamaan amalan yang paling paling utama di antara keutamaan lain.

Maka, sebenarnya menjadi PR bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami prioritas manakah yang semestinya seorang muslim tau dan pahami, mencoba menempatkan sesuatu sesuai porsinya, dan memprioritaskan sesuatu di atas prioritas yang semestinya. Dan jika ditelusuri sebenarnya buanyak banget prioritas yang salah kita prioritaskan, satu contoh konret ketika menyampaikan pesan kepada teman yang pacaran, yang mana pacaran itu hanya efeknya dan upaya tindak lanjutnya bisa dengan merangkul dan meluruskan ketauhidannya dulu dan inilah yang jadi pokok kajiannya, mengatasi masalah dari penyebab, baru ke dampak, dari hulu baru beranjak ke hilir.

Semangat berbenah, sama-sama perbaiki jadi diri lebih baik dan unggul, mulai dari perbaikan minimal hari ini mesti lebih baik dari hari kemarin. Tantangan ke depan masih sangat banyak, sebaik-baiknya kita yang tidak cepat mundur ketika badai itu menghadang, tetapi tetap melaju walau itu terasa berat.

Sabtu, 23 Januari 2021

Belajar dari Pembelajar Dahulu

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Pernah gak temen-temen ngerasa minder sama orang lain? in.se.cure gitu sama kemampuan orang lain? Macam contoh konkret berikut,

Kenapa dia bisa bangun jam tiga pagi padahal itu pagi banget? Kenapa kok dia bisa menyempatkan waktunya untuk dzikir pagi dan petang? Kenapa dia bisa menghapal Al-Quran satu juz satu hari padahal ini beratnya minta ampun? Kenapa sih dia bisa buat artikel yang impressive? Kenapa dia bisa lulus kuliah 3,5 tahun? Otaknya itu encer banget. Kenapa dia bisa berbagi padahal ekonominya minim banget? Kenapa dia bisa dengan mudah memaafkan orang lain? Kenapa dia bisa share ilmunya begitu mudah di instastorynya?  Kenapa dia bisa rutin posting feed di ig dan tulisannya membuat pikiran aku terbuka? Kenapa jalan cerita yang dia buat itu runtun banget sih?

=== Kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa dia?  ===

Interesting!

Kata 'Kenapa' (sebagian kita tau) terselip makna suatu 'Alasan' yang mana secara masif, untuk menjawab kata 'Kenapa' kita butuh prolog kata 'Karena'. 

Faktanya, frasa 'Tabiat Manusia', kita atau bahkan hampir semua manusia hanya mampu melihat apa yang diperlihatkan Allaah melewati si 'Dia'.

Secara konkret kita bisa men-judge si 'Dia' begini dan si 'Dia' begitu. Namun, terlepas dari itu, kita tidak pernah tau seberapa berat dia melangkah, seberapa berat dia mengerahkan diri dan potensinya untuk memanifestasi harapannya, seberapa berat dia melawan rasa malasnya untuk bangkit di samping lebih dari ribuan kali gagal menghampiri, dan kita tidak pernah tau seberapa banyak dia menghadirkan dirinya seraya memohon pada Tuhan-Nya dengan penuh kelembutan, mencurahkan segala perasannya sambil merintih nangis dan berdo'a "Ya Allaah, hamba lelah, hamba cape, hamba tidak sanggup lagi Mengapa ini berat ya Allaah, mengapa ini sangat sulit untuk dijalani? Mengapa ya Allaah ujian satu belum selesai Kau timpakan lagi kesedihan mendalam?"

Dan pada akhirnya, tidak baik jika kita terlalu berbangga diri, menganggap diri lebih baik, paling baik, paling keras dan semangat dalam berjuang daripada si 'Dia' yang kau anggap remeh. 

Maka, betapa penting kita menanamkan sikap berprasangka baik pada mereka yang memiliki semangat juang tinggi, berjalan dimuka bumi dengan penuh semangat, dan yang kita anggap mereka itu adalah orang-orang hebat hebat. Bisa jadi, di sana terdapat ridho Allaah lebih menyelimuti dia dibanding kita. Boleh jadi, bangunnya dan niatnya dia lebih lillaah daripada kita. Bisa saja keikhlasan hatinya lebih mendatangkan manfaat dan berkah di banding kita. Karena kita tidak tau, seberapa besar usaha dia dalam melibatkan Allaah dalam setiap untaian detik hingga ajal mendatang.

Kilas balik zaman dahulu, guru-guru, ulama, dan para imam besar, budaya mereka adalah selalu terpacu dalam hal melakukan kebaikan, walau kebaikan itu bernilai kecil. Layaknya bola salju, kecil menuju besar, menggulung kebaikan menuju kebaikan, semakin besar bola salju, maka kebaikan semakin banyak dan mendatangkan keberkahan dalam hidup sehingga suatu harapan menjadi 'abdan syakura, seorang hamba yang selalu bersyukur dan menjadikan Surga-Nya sebagai impian akan terwujud. 

Kebaikan tersebut dapat menerangkan kegelapan dan meluaskan kesempitan, mengubah peradaban, dan mengenang sejarah di zamannya. Suatu karya yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Semakin canggihnya teknologi, segala kemudahan kita dapatkan, karya yang mereka buat dapat disantap dengan mudah oleh kita pada masa sekarang.

Seperti Ubaid bin Ya'isyi, seorang ulama besar dalam tafsir hadist dengan kegigihannya beliau tidak rela menyia-nyiakan waktunya untuk bersantai ria, tidak seperti kita yang memiliki jiwa bermalas-malasan dan rebahan. Beliau rela memanfaatkan waktunya untuk -menulis- hadist-hadist yang disampaikan nabi selama -tiga puluh tahun- lamanya. Betul, tiga puluh tahun. Maa syaa Allaah

Jika kita renungkan, tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar, tidak macam satu kedipan mata, bahkan ketika makan saja beliau disuapi oleh adik perempuannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ammar bin Raja' bahwa Ubaid bin Ya'isyi mengatakan "Aku tidak makan mala dengan tanganku sendiri, tetapi saudari perempuankulah yang menyuapiku diseriap malam selama tiga puluh tahun, sementara aku terus menulis hadist."

Lalu, Ibn Aqil dengan karyanya mampu membuat 20 buku tulis dalam beberapa disiplin ilmu dan karyanya yang dahsyat 400 - 800 jilid dalam bidang agama dengan salah satu kitabnya yangt terkenal, yaitu Al Funun. Selain itu, Ibn Main dengan karyanya dapat memenuhi 100 rak buku dan 14 wadah besar karya tulis. Sedangkan Ibnu Jauzi yang dapat menulis 600 kitab dan seorang ulama islam yang tidak asing lagi di telinga kita, Ibnu Taimiyyah dengan karyanya yang tidak dapat dihitung dan sudah tersebar diberbagai belahan dunia.

Betapa luar biasanya bentuk mujahadah, bersungguh-sungguhnya para ulama-ulama terdahulu dalam menebar dan menabur kebaikan hingga karyanya dapat kita terima dengan mudah di masa ini sebagai bentuk mahabbah, cinta kepada Rabbul'alamiin. 

Cukup menjadi bahan renungan bagi diri ini, "Sudah seberapa sungguh kau menebar manfaat? Sudah seberapa besar dan banyaknya karya yang telah kau ukir demi diri, keluarga, masyarakat, dan islam itu sendiri? dan Seberapa sungguhkah engkau mengemukakan cinta pada Tuhanmu? 

Bukankah Siti Khadijah rela memberikan seluruh hartanya, demi Islam sebagai bukti dia mencintai Allaah dan Rasulnya? Bukankah Abu Bakar rela memberikan seluruh hartanya tanpa menyisakan untuk keluarganya dan hanya berpegang pada Rabb dan Tuhannya? Bukankah Asma binti Abu Bakar rela menaiki jalanan terjal nan tinggi padahal sedang dalam fase hamil besar untuk memberikan asupan energi untuk Rasulnya sebagai bukti dia mencintai Allaah dan Rasulnya? 

Wahai diri, kau hanya butuh niat, komitmen, dan kemauan untuk mencapai impian yang belum kau realisasikan. Setelah tau betapa banyak para pembelajar terdahulu yang begitu bersemangat memberikan karyanya sebagai bukti cinta terhadap Tuhannya, mengapa kau begitu cepat untuk menyerah, padahal, niat, komitmen, dan kemauan jika kau pegang maka semua impianmu akan tercapai."

Jadi, semangat berbenah diri, siapkan amunisi, dan siapkan diri untuk bereksekusi dan renungkan

==== Seberapa besar mujahadah kita dibandingkan para pembelajar dahulu? ====

Minggu, 17 Januari 2021

Menjadi Produktif Itu Biasa, Menjadi Muslim Produktif, Itu Luar Biasa!

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

productiveandfree.com 

Era globalisasi, era resolusi menuju 5.0 menjadi bukti nyata semakin canggihnya teknologi. Terlebih dengan adanya prevalensi coronavirus disease 2019 (covid-19) hampir semua kegiatan berbasis online. Namun, kesempatan lebih banyak beraktivitas di rumah -Work from Home- terkadang membuat kita lalai, lebih banyak santai, dan rebahan menjadi pelampiasan sehingga imbasnya keproduktifan bisa saja menurun.

Apakah sibuk = produktif ?

Sebagian dari kita selama ini beranggapan bahwasanya produktif memiliki arti yang sama dengan sibuk, orang produktif itu tidak punya waktu, dan orang produktif itu tidak fokus. Namun, pemahaman tersebut keliru setelah kita memaknai arti produktif yang sebenarnya.

Orang produktif bukan orang yang sibuk, bukan orang yang tidak punya waktu, bukan juga orang yang tidak fokus. Namun sebaliknya, orang produktif ialah orang yang punya waktu dan tau bagaimana ia mengelolanya, dapat menyisihkan waktunya kapan ia harus istirahat, bermain, berlibur, menghibur diri, dan orang produktif ia mampu untuk fokus dengan melibatkan hatinya, jiwanya secara totalitas, dan pikirannya terhadap apa yang dikerjakan.

Orang produktif adalah orang yang mampu membuat pilihan cerdas atas apa yang direncanakan setiap harinya. Dengan kata lain produktif dapat berarti mampu menempatkan sesuatu pada kadar dan tempatnya. Hal ini berkaitan dengan kegiatan yang sudah kita buat, rencana yang sudah kita susun, dan pemikiran yang sudah kita pecah menjadi bagian list pada to-do list dapat dikerjakan tepat waktu dan memiliki waktu luang untuk istirahat, sehingga timbul keseimbangan dari segi kesehatan dalam hal istirahat, segi emosi seperti tenang, seru, dan bahagia. 

Namun, perlu diingat bahwa produktif itu bukan sebuah kejadian dan hanya berlaku satu hari, tetapi produktif itu suatu perencanaan dan mampu secara konsisten atau continue membiasakan diri untuk tepat dalam menempatkan sesuatu pada kadar dan tempatnya. 

Lalu apa yang membedakan antara produktif dengan muslim produktif?

Secara umum, menjadi seorang produktif setidaknya memegang tiga poin pokok, yakni fokus, energi, dan waktu. Hal yang membedakannya dengan seorang muslim adalah ibrah atau manfaat yang diperoleh dari sesuatu yang dikerjakannya. Apakah sesuatu yang dikerjakan membawa dampak positif bagi diri atau malah memberikan dampak buruk.

Berkenaan dengan produktivitas dan jika dikaitkan dengan Islam, pernahkah terlintas dibenak kita, bukankah Islam memiliki pilar produktivitas? Yakni kelima pilar pada hadist "Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya hingga dia ditanya tentang lima perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dalam hal apa hartanya ia belanjakan, dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya." Tetapi mengapa masih banyak muslim/ah yang buta huruf? Masih banyak muslim/ah yang melakukan tindak kriminal? Masih banyak muslim/ah yang tidak menghormati hak asasi manusia?

Dalam hal ini, setidaknya terdapat tiga poin penting yang sering manusia, muslim/ah lupa dan lewatkan

1. Tujuan hidup di dunia

Menjadi keutamaan yang luar biasa bagi manusia karena Allaah menciptakan akal dan nurani dan menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk, bahkan hewan sekalipun agar manusia dapat berpikir, menghayati, dan menguak tujuan Allaah menciptakan manusia hidup di dunia.

Jika dikaji dan diteliti, manusia memiliki dua tujuan hidup di dunia, yakni sebagai khalifah dan untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 30 Allaah menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin bagi diri, lingkungan, dan negaranya dan QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa Allaah menciptakan manusia tiada lain hanyalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya. 

Hal ini berarti bahwa setiap manusia merupakan pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya di yaumil akhir dan manusia memiliki kewajiban untuk menghamba bukan penyembah, mengingat kepada Tuannya (Rabbnya) kapanpun dan dimanapun secara konsisten tanpa ada pilihan sementara dan waktu khusus, seperti saat makan, mandi, bercermin, berada di dalam pesawat, di kamar tidur, berkumpul dengan keluarga semua menjadi ibadah jika dilakukan atas dasar niat karena-Nya. Penting bagi kita mengetahui dan merefleksi dimanakah letak kita sebagai manusia, seorang penyembah yang hanya kian waktu, waktu senggang mengingatnya ataukah seorang penghamba yang senantiasa istiqamah mengingat dalam kondisi apapun?

2. Values Islam

Jika nilai-nilai ke islaman sudah kita pupuk sedari sekarang, akan menghasilkan buah manis dan menuai kebaikan bagi setiap orang. 

Sebagai contoh suatu kisah seorang pemimpin terbaik di masanya, dijuluki Umar II, cucu seorang khalifah Umar bin Khattab, yakni Umar bin Abdul Aziz ketika melakukan rembukan rapat bersama gubernur yang membahas kesejahteraan umat di sebuah aula besar dimana aula tersebut dibangun atas dana baitul mal. Kemudian seseorang di antaranya menanyakan kepada Umar II

"Yaa khalifah, bagaimana keadaanmu sekarang? Engkau terlihat letih dan lelah." 

Lalu Umar II meminta untuk mematikan lampu di aula besar tersebut. 

Jika ditilik ulang, secara tersirat, dengan dimatikannya lampu, Umar II secara detail dan refleks menerapkan nilai-nilai keislaman. 

Pertanyaan yang dilontarkan kepadanya merupakan urusan personal atau menyangkut pribadi dan tidak memiliki kaitan dengan umat dan posisi beliau berada (aula yang dibuat dari baitul mal) yang seharusnya membahas mengenai kesejahteraan umat.

Dalam hal ini, jika nilai-nilai keislaman (dzikir pagi dan petang, shalat sunnah, penerapan sirah nabawiyyah) sudah dipupuk dan diterapkan oleh seorang muslim, maka secara tidak langsung akan mendorong bagian internal dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di sisi Tuhannya, memanfaatkan potensi yang ada, dan berusaha berubah menuju jalan yang diridhoi-Nya.

3. Jiwa

Satu di antara tiga poin di atas yang menjadi pondasi awal, landasan, dan hal krusial adalah jiwa. Analogi sederhana, bayangkan saja suatu raga tanpa jiwa seperti orang wafat yang hanya terdiri atas tumpuan tulang yang berbalut kulit, bersatu, tetapi tanpa ada jiwa yang mengatur dan mengendalikan. 

Jiwa itu ada dan menjadi titik balik kita menuju surga-Nya dan meyakini adanya hari akhir.

Sebagaimana QS. An-Nisa ayat 122 yang menyatakan bahwa surga itu ada. Nabi Adam berasal dari surga begitupun dengan kita. Lantas mengapa kita berdiam diri, tidak menggerakan hati dan mengupayakan untuk kembali pada tempat asal kita, yaitu surga?

Oleh sebab itu, untuk menjadi seorang muslim/ah yang produktif, di samping fokus, tenaga, dan waktu penting mengingat manfaat yang akan didapat, memaknai kelima pilar produktivitas, dan mencoba menerapkan tiga hal yang cenderung dilewatkan seorang muslim.

Minggu, 10 Januari 2021

Menggapai Langit Bersama Pahlawan Hati

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

Asssalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Merhaba! Salam hangat, salam ukhuwah

Pahlawan hati, siapa dia? 

Kiranya ketika saya merasa berada didekat dengan orang yang memiliki kepribadian luar biasa, memberi insight atau yang mampu membuka pikiran saya, dan membagikan ilmunya dengan penuh keikhlasan maka dialah yang saya maksud. 

============

Pernah gak ukhti fillah merasa ada dorongan untuk berubah? Ngerasa hidup gini-gini aja, gaada perubahan, dan bilang sama diri kalau "Saya Harus Berubah" ? 

Saya yakin pasti pernah dan di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya.

Kala itu, suatu harapan muncul dalam benak dan diri saya, bahwa

S a y a    h a r u s    b e r u b a h

Bukan hal yang baru dan pertama kali muncul, bahkan lebih dari puluhan kali rasa dan keinginan untuk berubah itu menemani. Bergerak atau tergantikan. Itulah kata yang menjadi pegangan saya untuk meng-upgrade diri, untuk berubah, untuk bergerak jauh lebih baik.

Percaya atau tidak, ketika kita bertekad untuk berubah dan menghilangkan rasa malas (yang selalu menghantui) secara tidak sadar Allaah telah menolong kita, Allaah akan membukakan jalan, Allaah membukakan pintu rahmatnya, dan Allaah tidak segan untuk memberikan teman, sahabat, dan lingkungan baik yang akan membimbing kita di jalan yang Allaah ridhoi.

Sebagaimana dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 dalam firman-Nya "....Sesungguhnya Allaah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan dirinya sendiri dan jika Allaah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Dari ayat tersebut dapat kita ambil sisi baiknya bahwasanya Allaah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang sedang berusaha untuk berubah yang bermakna bahwa Allaah akan berikan jalan (dari mana saja) untuk hamba-Nya yang mau berubah dan Allaah akan mengubah suatu kaum setelah mereka sendiri yang mengubah diri mereka yang bermakna bahwa setelah kita memiliki tekad untuk berubah, maka di sinilah yang menjadi bukti kasih sayangnya Allaah, di sinilah Allaah berikan Al-Huda petunjuk bagi mereka yang melihat sisi kebesaran Allaah.

**

Satu persatu Allaah mulai bukakan jalan bagi saya.  

Saat scrolling ig sudah menjadi hal masif yang biasa saya lakukan, disitulah awal mula Allaah bukakan pintu rahmat-Nya. Dari feed instagram yang saya temui kala itu, saya melihat postingan teteh yang menjadi mentor saya (pahlawan hati) kali ini.

Dengan segala ke Mahaagungan-Nya, Allaah membukakan pikiran dan hati saya untuk mencoba menulis sebuah tulisan esai dengan tekad mengalahkan rasa malas dan mengalahkan rasa "Tidak Percaya Diri". Pengumuman ditunda selama dua minggu hingga tiba saatnya pengumuman dan saya dinyatakan lulus. Terharu, senang, bahagia, dan campur aduk rasa yang dialami saat itu. Namun, dibalik itu semua terdapat sebuah keyakinan yang menghantarkan saya pada tujuan ini dan untaian do'a yang saya panjatkan pada-Nya.

Bayangkan, yakini, berdo'a. Itu yang menjadi landasan saya dalam menggapai suatu impian. 

Selama itu saya semakin yakin bahwa dengan keinginan dan berazzam, maka Allaah akan bukakan jalan, Allaah yang maha baik akan selalu menemani di setiap langkah dan jalan bagi siapa saja yang mau  B E R U B A H.

Satu minggu pertama kami diberi tiga hal yang menantang. Amalan yaumi, seperti tahajjud, tilawah satu juz sebelum pukul 05.00, dzikir pagi, yang mana ketiga amalan ini membuat saya berpikir bahwa sebenarnya saya dan kita mampu melakukannya, hanya saja ego mengikuti rasa malas yang selalu menjadi penawar.

***

Ketika membahas seorang muslimah yang menjadi tolak ukur tidak lain dan tidak bukan adalah seorang perempuan, seorang akhawat, atau seseorang yang menganut agama Islam. 

Pernahkah terpikir dibenak kita bahwa menjadi seorang muslimah itu tidak hanya dapat notabene yang mana muslimah adalah seseorang yang memakai kerudung, bajunya menutupi badan, mengamalkan amalan yaumi tanpa terlewat, dzikir pagi petang, menghormati siapapun yang lebih tua, tetapi jauh dari itu.

Seorang muslimah mesti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan lebih komprehensif, seperti sudahkah menjadi seorang muslimah yang tidak sekadar mengenakan kerudung tetapi tau alasan mengapa dia mengenakan kerudung, apa karena ikut-ikutan atau sekadar gengsi semata? sudahkah mengamalkan amalan yaumi dan tau apa ganjarannya? sudahkah mengamalkan apa saja amalan yang harus dilakukan selama masa haid? sudahkah mengamalkan 10 sifat muwashafat? sudahkah membaca sirah nabawiyyah hingga usai? sudahkah mengamalkan ilmu mengenai birrul walidain? sudahkah dzikir pagi petang membawa perubahan? sudahkah merasakan kenikmatan dalam shalat? sudahkah dengan shalat menjadikan hari dan hati kita tenang? sudahkah sudahkah sudahkah.....

Begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab dan menjadi PR bagi kita semua bahwa jadilah seorang muslim/muslimah yang mampu memahami ilmu yang telah didapat, mengamalkan ilmu yang telah kita dapat, baik dengan mengamalkan dari diri sendiri, berbagi pada keluarga, teman, kerabat, maupun masyarakat luas.

Seperti kutipan yang disampaikan teteh mentor "Contoh saja bintang yang tidak hanya bersinar, tetapi juga menyinari yang menebar kebermanfaatan sebagai langkah membawa keberuntungan". 

Begitu banyak contoh seorang muslimah yang dapat dijadikan teladan, selain para istri dan shahabiah nabi, yang menjadi nyata di masa ini, mulai dari kalangan anak muda, dewasa, hingga mereka yang sudah tua tidak pantang mundur, tidak menyerah, tidak cepat mengangkat tangan, tidak cepat menaikan bendera sebelum akhirnya sampai pada tujuan dan ini memperlihatkan bahwa menjadi muslimah tidak hanya cukup dengan ilmu sedikit, terus belajar, terus menggali, mengkaji, mencari referensi, memperbanyak ilmunya dan merendahkan hati sebagaimana peribahasa padi yang kian berisi kian merunduk. Maka, marilah menggapai ilmu sebaik mungkin, jadilah muslimah yang mampu mengamalkan ilmu dan memahami apa yang kita lakukan. Mereka bisa, mengapa saya tidak? Kita bisa menjadi seperti mereka, bahkan lebih dari mereka. 

 ~bayangkan, yakini, berdo'a~

Janganlah takut saat melangkah karena sungguh Allaah berada di dekatmu, Allaah selalu menyaksikanmu, Allaah selalu mendengarkan keluh kesahmu. Berdo'alah dan mintalah pertolongan-Nya.

Mereka yang sudah berumur saja masih bersemangat, lantas mengapa tidak dengan kita yang masih muda? ~ Teh Stani Juanita